Jubir PRP Diduga Melanggar UU ITE

Ilustrasi: Jubir PRP, Jefri Wenda (kaos putih) saat akan dibawa ke Mapolres Jayapura Kota

Metro Merauke – Polisi menduga Juru Bicara Petisi Rakyat Papua atau Jubir PRP, Jefri Wenda melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Jefri Wenda ditangkap polisi saat unjuk rasa menolak rencana pemekaran Provinsi Papua digelar di Kota Jayapura, Selasa (10/05/2022).

Bacaan Lainnya

Ia ditangkap bersama enam orang lainnya di sekitar Padangbulan, Kelurahan Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura. 

Kapolres Kota Jayapura, Kombes Pol Gustaf Urbinas mengatakan, Jefri Wenda diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menurutnya, beberapa hari sebelum unjuk rasa digelar, Jefri Wenda aktif menyerukan ajakan demonstrasi menolak rencana pemekaran Provinsi Papua.

Ajakan itu dilakukan lewat berbagai jenis postingan di media sosial, dan melalui selebaran. 

“Enam orang turut dibawa serta sebagai saksi. Saat ini tujuh orang berada di Mapolresta [Jayapura] untuk kami mintai keterangan terkait penyelidikan dengan dugaan pelanggaran undang-undang transaksi elektronik,” kata Gustav Urbinas Selasa (10/05/2022).

Kapolresta Jayapura, Gustav Urbinas mengatakan enam orang lain yang ditangkap bersama Jefri Wenda, yakni Ones Suhuniap (Jubir KNPB), Omikson Balingga, Nely Itlay, Maxi Mangga, Abidow dan Iman Kogoya.

Katanya, polisi tetap memberikan ruang kepada pendampingan hukum, ketujuh orang yang ditangkap itu.

Meski polisi menyebut enam orang yang ditangkap bersama Jefri Wenda diperiksa sebagai saksi, namun belum dapat memastikan status Jefri Wenda.

Unjuk rasa menolak rencana pemekaran Provinsi Papua yang digelar di berbagai wilayah Papua dikoordinir Petisi Rakyat Papua.

Di Kota Jayapura, unjuk rasa dibubarkan paksa polisi saat massa aksi berencana menuju kantor DPR Papua untuk menyampaikan aspirasinya. 

Polisi membubarkan paksa pengunjuk rasa, sebab aksi itu dianggap tidak sesuai prosedur. (Arjuna)

Pos terkait