Metro Merauke – Di ufuk timur Indonesia, tempat matahari pertama kali menyapa negeri ini, keadilan akhirnya tiba dalam bentuk jerigen-jerigen penuh.
Kabupaten Merauke, sebagai kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan dengan target cetak sawah skala besar, memiliki ironi.

Di satu sisi, pemerintah pusat telah menggelontorkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Di sisi lain petani kerap kesulitan mendapatkan BBM. Traktor tidak bergerak di pinggir sawah, bukan karena rusak, tapi karena tangki kosong. Petani harus antre di SPBU umum bersama truk dan mobil, kadang tidak kebagian, terpaksa harus beli eceran mahal.

Tepat di Hari Tani Nasional, Kamis 24 September 2026, Kampung Amun Kay, Distrik Tanah Miring, Merauke, Papua Selatan, mencatat sejarah. SPBU 86.996.01 PT Bunda Yeni Sulistyowati, resmi ditetapkan Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze sebagai SPBU khusus petani pertama di Indonesia Timur.

Penetapan itu bukan sekedar peresmian infrastruktur. Ini adalah jawaban atas keluhan bertahun-tahun yang mengendap di lumpur sawah Merauke.

Kini, satu bulan lalu telah diresmikan, denyut itu berubah.

SPBU Amun Kay yang berlokasi di SP 8 ini khusus melayani petani untuk jenis BBM Bio Solar dan Pertalite, tentunya dengan harga subsidi. Syaratnya jelas, membawa surat rekomendasi sesuai Perpres 191/2014, diverifikasi, lalu diisi.
Hasilnya terlihat di 10 foto ini yang diambil Jurnalis Metro Merauke, Nuryani, Kamis (29/10/2026).
Dari totem SPBU 86.966.01, deretan antrean jerigen milik petani hingga senyuman terpancar jelas dan ungkapan jujur petani Merauke karena merasa tidak cemas lagi, kendala BBM untuk petani telah teratasi.
Dulu petani susah, sekarang sudah senang. Kini petani optimis menyukseskan program swasembada pangan nasional dari ujung Nusantara. (Nuryani)













































