Energi untuk Petani Menuju Swasembada di Ufuk Timur Indonesia

Traktor pengangkut puluhan jerigen ikut antre di SPBU 86.996.01 Kampung Amun Kay, Distrik Tanah Miring, Merauke. Dengan harga Bio Solar Rp6.800 per liter dan Pertalite Rp10.000 per liter. Petani Merauke kini tidak lagi bergantung pada pengecer. (Foto: Metro Merauke/Nuryani)

Metro Merauke – Pukul 12.47 WIT. Terik matahari siang itu tidak menyurutkan semangat petani memadati SPBU 86.996.01 di Kampung Amun Kay, Distrik Tanah Miring, Merauke, Papua Selatan, Kamis (29/10/2026).

Di depan pagar besi yang masih tertutup, seorang pria sudah berdiri menunggu tiga puluh menit lebih awal.

Bacaan Lainnya

Namanya Yosep Bambirop (39), petani asli Papua dari Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring. Di sampingnya, mobil blakos (sebutan mobil pikap), di atasnya ada 32 jerigen kosong berjejer.

Nampak sejumlah petani lainnya di sana, datang dari berbagai kampung dengan jarak tempuh berbeda. Sembari menunggu, ada yang duduk meneguk air dari botol, sebagai bekal yang sengaja dibawa untuk menghilangkan dahaga selama di perjalanan.

“Dulu kalau torang (kita) mau tanam, bingung cari minyak, bensin maupun solar,” kata Yosep Bambirop pelan.

“Ya harus ke kota, kalau di pengecer di kampung harganya (Bahan Bakar Minyak) su (sudah) mahal sekali. Awalnya ada yang jual Rp13.000 per liter. Karena semakin sulit, bisa tembus sampai Rp16 ribu. Torang nekat lari jauh sampai kota untuk cari bensin. Kalau tidak begitu, pompa untuk sedot air tidak bisa hidup,” katanya kepada Metro Merauke.

Yosep merupakan warga Kampung Tambat, baru lima tahun menggarap lahan seluas dua hektar. Sebelumnya bapak dari tiga anak ini aktivitasnya berburu.

Dengan adanya pendampingan serta dukungan alat pertanian yang kini lebih modern, dia mengaku mau seriusi bertani dan bergabung di salah satu kelompok tani di kampung itu.

Tidak jauh darinya, berdiri Saipul (53), dari Kampung Isano Mbias. “Senang sekali sekarang ada SPBU khusus petani. Dulu kita ada yang tidak bisa jalankan alat tani sama sekali karena kesulitan BBM. Sangat menghambat,” ujarnya.

Pria paruh baya ini masih ingat, hampir di setiap musim tanam sebelumnya, petani kerap mengalami masa-masa sulit dalam menggarap lahan. Utamanya kesulitan mendapatkan pasokan BBM.

“Kalau minyak tidak ada, kita setengah mati sekali. Pernah, ada yang waktunya nyedot air, jadi tidak bisa, sawah kekurangan air. Bahkan sampai waktu panen pun padinya rusak, karena jadwalnya ‘ngomben’ (panen menggunakan alat combine harvester) terpaksa tunda, tidak ada BBM,” bebernya.

Padahal, di totem (informasi harga dan jenis BBM) di SPBU 86.996.01 di depan mereka, angka itu hanya Rp6.800 per liter untuk Bio Solar dan Rp10.000 per liter untuk Pertalite.

Kisah Rp16.000 itulah yang sampai ke telinga Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, 4 Juli 2026. Di pematang sawah, Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Merauke. Petani secara kompak mengadu. “Pak Menteri, beri kami SPBU sendiri.”

Yosep Bambirop, petani asli Papua dari Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring tengah menunggu proses verifikasi QR code surat rekomendasi di kantor SPBU 86.996.01 Kampung Amun Kay, Distrik Tanah Miring. Tanpa verifikasi melalui aplikasi XStar, petani tidak dapat menebus BBM subsidi. (Foto: Metro Merauke/Nuryani)

Kabupaten Merauke sebagai ibu kota Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Papua Selatan, telah dicanangkan sebagai lumbung pangan nasional di timur Indonesia. Negara menitipkan harapan swasembada di sini. Tapi, bagaimana mau mewujudkan mimpi itu, kalau alsintan harus mogok karena solar?

Usulan itu jadi kenyataan. Tepat di Hari Tani Nasional, 24 September 2026, Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze bersama Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian RI, Eko Nugroho Darmo Putro, dan Pertamina Patra Niaga Regional Papua-Maluku menggunting pita, meresmikan SPBU khusus petani pertama di Indonesia Timur. Janji tentang sinergi energi dan Pertanian.

Bupati Yoseph Gebze tegas mengatakan, keberadaan SPBU petani menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung pengembangan sektor pertanian di Merauke.

Fasilitas ini akan memudahkan petani mendapatkan BBM untuk mengoperasikan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Menurut bupati, yang di Amun Kay baru awal. “Kurang lebih ada sekitar 15 SPBU yang akan kami usulkan khusus untuk melayani para petani. Semoga rencana tersebut dapat terpenuhi,” kata Yoseph Gebze.

Akses BBM yang lebih dekat dibutuhkan untuk menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan produktivitas petani. Kehadiran SPBU khusus tersebut juga diharapkan dapat memangkas rantai distribusi BBM menuju kawasan pertanian.

Tak kalah penting bupati juga mengingatkan, supaya tidak ada pihak yang bermain BBM subsidi. “Jika ditemukan di belakang, pasti kami kawal sampai diproses hukum. Barang ini (BBM subsidi) harus tepat sasaran,” tegas Yoseph Gebze.

Pernyataan itu diperkuat Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian RI, Eko Nugroho Darmo Putro, yang meminta TNI-Polri turut mengawasi agar BBM benar-benar diterima petani.

Eko menyebut optimalisasi lahan (oplah) 41.000 hektare dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) 48.000 hektare di Merauke butuh kepastian energi.

Pukul 13.00 WIT, pelayanan BBM untuk petani mulai berjalan. Di dalam ruangan, Supervisor SPBU 86.996.01 PT Bunda Yeni Sulistyowati, Musriadi Mandati, menyiapkan perangkat kerjanya.

“Pelayanan kita buka setiap hari, pukul 08.00-12.00 WIT, setelah istirahat kita lanjut jam 13.00-16.00 WIT.”

Petani membawa surat rekomendasi dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Merauke. Menggunakan aplikasi XStar, petugas scan barcode suratnya dulu untuk mencocokkan data dan kuota.

Pengambilan harus langsung oleh ketua kelompok tani, jika diwakilkan wajib surat kuasa resmi. “Ini penting, untuk pastikan BBM subsidi tepat sasaran. Pastinya kita layani kuota sesuai rekomendasi yang dikeluarkan Dinas Pertanian,” ujar Musriadi kepada Metro Merauke, Kamis (29/10/2026)

Ia membuka buku kuota. “Jumlah kuota saat ini, Bio Solar 110 ton dan Pertalite 90 ton per bulan,” katanya.

Rasa syukur seorang petani Papua, Muhammad Buang Basik-Basik, saat mengoperasikan traktor di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kampung Muram Sari, Distrik Semangga, Merauke. Berkat hadirnya SPBU 86.996.01, Kampung Amun Kay, petani lokal semakin semangat bekerja. “Terima kasih, sekarang torang su bisa garap lahan tarada (tidak ada) rasa cemas,” ungkapnya. (Foto: Metro Merauke/Nuryani)

Musriadi menyebut, sudah ada penambahan kuota. Awalnya 70 ton, naik 90 ton hingga sekarang 110 ton per bulan. “Kami sudah ajukan lagi untuk penambahan,” terangnya.

Menurutnya, penambahan kuota sangat perlu. “Ini memang masih kurang. Satu rekomendasi saja bisa 1 ton. Cakupan kami tidak hanya satu distrik, dari distrik-distrik lain juga ada masuk. Contoh dari Distrik Semangga dan Kurik. Idealnya butuh 200-an ton, baru bisa cover,” sambung Musriadi.

Dirincikan, ada 192 kelompok tani yang tersebar di 14 kampung, di Distrik Tanah Miring. Yakni Isano Mbias 24, Yasa Mulya 19, Waninggap Say 16, Yaba Maru 16, Nggutibob 15, Amun Kay 14, Sumber Harapan 14, Soa 14, Waninggap Miraf 12, Hidup Baru 12, Sarmayam Indah 12, Tambat 10, Bersehati 9, dan Kampung Kamangi 5 kelompok tani.

Harapan penambahan kuota ini juga disuarakan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cabang Merauke, Giono mengatakan kuota BBM petani perlu ditambah, seiring melonjaknya aktivitas tanam di sentra Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Merauke.

“HKTI Merauke sangat berterima kasih SPBU petani sudah ada, ini sejarah. Tapi, kebutuhan riil di lapangan cukup besar. Kami harap pemerintah dan Pertamina bisa dorong penambahan kuota,” pintanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanan Pangan Hortikultura dan Perkebunan Merauke, Josefa Rumaseuw menjelaskan, guna memastikan penyaluran BBM subsidi bagi petani tepat sasaran, menghindari kebocoran atau penyalahgunaan jatah, lewat sistem berbasis rekomendasi dan barcode XStar.

Ia menambahkan, seluruh Gapoktan, Poktan, dan Brigade Pangan di Merauke sudah dapat mengoperasikan XStar dengan baik untuk mendapatkan BBM subsidi sesuai kebutuhan masing-masing.

Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Papua Selatan, Darryl Gomos Otniel Manullang, menyebut dengan hadirnya SPBU khusus petani, pelayanan dan penyaluran BBM bersubsidi diharapkan semakin optimal.

Diantara antrean jerigen, rasa syukur itu terdengar paling jujur. “Puji Tuhan, terima kasih banyak. Torang petani asli Papua su dibantu alsintan, traktor ada, combine ada. Sekarang minyak juga su dekat dan murah. Dulu susah, sekarang su senang. Torang akan giat tanam, biar program pemerintah swasembada pangan dari Merauke bisa jadi kenyataan,” tutur salah satu petani Papua, Muhammad Buang Basik-Basik.

Sore itu, antrean di SPBU 86.996.01 perlahan bubar. Jerigen-jerigen aneka warna yang berjejer pulang dalam kondisi penuh. Tidak ada lagi cerita Rp16.000, yang tersisa adalah kepastian sederhana. Di musim tanam ini petani di Merauke siap tancap gas, bekerja tanpa cemas.

Dari ufuk timur Indonesia, swasembada tidak diteriakkan, melainkan dikerjakan dengan energi yang akhirnya sampai kepada mereka dan tepat sasaran. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *