Metro Merauke – Di Gudang Arang, Kelurahan Kamahedoga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, ada ikan yang dulu tak dilirik. Namanya gastor, sebutan lokal untuk ikan gabus. Hidup melimpah di rawa-rawa Merauke, tapi dianggap ikan buangan, tak bernilai jual.

Pandangan itu berubah di tangan 10 perempuan tangguh dari Gudang Arang. Sejak 2018, mereka membentuk kelompok, dinamai Rumah Harapan Papua Baru, pengolah albumin.

Kelompok yang diketuai Rusdiyati Tanawali Samkakai. Perempuan paruh baya kelahiran Merauke, 12 Oktober 1977, menggerakkan warga sekitar di tempat tinggalnya untuk berinovasi.

Barulah 2020, kelompok UMKM ini didampingi penuh melalui program CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Fuel Terminal Merauke.
Gastor yang berlendir itu disulap. Dagingnya diekstrak perlahan menjadi minyak dan kapsul albumin murni. Cairan bening kekuningan yang kaya protein, khasiatnya luar biasa. Mempercepat penyembuhan luka pasca operasi, memulihkan ibu melahirkan, dan menjaga daya tahan tubuh.

Saat pandemi Covid-19 melanda, tetes emas ini menjadi buruan. Permintaan melonjak dari rumah-rumah warga, bahkan peminatnya sampai dari luar Papua.
Dari rawa yang terabaikan, mereka mengirimkan harapan penyembuhan.

Bantuan CSR Pertamina tidak berhenti di pelatihan. Dari peralatan ekstraksi kapsul hingga rumah produksi yang kini berdiri kokoh di Gudang Arang, kelompok ini didampingi sampai mandiri. Hingga 2026, enam tahun setelah pendampingan, mereka terus eksis, berdaya, dan menjadi penopang ekonomi keluarga.

Ini bukan sekadar cerita UMKM. Ini cerita tentang bagaimana ikan buangan menemukan harganya, dan bagaimana 10 mama-mama di Merauke menemukan kemandiriannya. Berkat energi yang tak pernah putus. (Nuryani)












































