Distan Wondama Kembangkan Tanaman Pisang dan Kopi

Tanaman pisang tumbuh subur di Kabupaten Teluk Wondama, namun belum dikelola secara profesional untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga setempat. (ANTARA/HO-Zack Tonu B)

Metro Merauke – Jajaran Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat akan mengembangkan dua komoditas pertanian yang dinilai cocok dengan karakteristik masyarakat lokal yaitu tanaman pisang dan kopi.

Kepala Distan Tekuk Wondama Korneles Paduai di Isei, Senin, mengatakan tanaman pisang bukan barang baru bagi warga di wilayah itu.

Bacaan Lainnya

Sejak zaman dahulu, katanya, warga di setiap kampung di Teluk Wondama sudah terbiasa menanam pisang, namun pengelolaannya masih bersifat tradisional, belum dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

“Sekarang memang banyak (kebun pisang milik masyarakat), tapi belum ada yang ditata secara baik. Pasar yang sulit membuat masyarakat malas kembangkan pisang. Ada yang dibawa ke Biak, tapi kita belum lihat ada kebun pisang yang baik,” ujar Paduai.

Mulai tahun depan Distan Teluk Wondama mengembangkan komoditas pisang dengan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan sehingga dapat menghasilkan panen yang bisa diterima pasar.

Paduai mengatakan telah tersedia lahan seluas 7 hektare di Kampung Dotir, Distrik Wasior. Lokasi itu telah dipetakan untuk menjadi lahan potensial pertanian berkelanjutan (LP2B) khusus untuk komoditas pisang terutama jenis pisang raja.

“Kami sudah bangun komunikasi dengan masyarakat, mereka siap untuk kembangkan pisang di sana. Untuk jenisnya yang paling banyak laku dipasar yaitu pisang raja dan pisang kapok,” ujar Paduai.

Sementara untuk kopi, pengembangan yang direncanakan tahun depan baru sebatas uji coba. Pasalnya, sejauh ini belum ada kajian akademis terkait cocok tidaknya tanaman kopi dikembangkan di Wondama.

Namun demikian, kata dia, tanaman kopi bukanlah komoditas baru bagi orang asli Wondama mengingat warga setempat sudah mengenal kopi sejak zaman Belanda.

Wilayah Windesi dan sekitarnya dahulu pernah menjadi ladang kopi juga tanaman karet.

“Makanya kita coba kembangkan kopi yang secara histori sudah dari dulu dikembangkan di Wondama, terutama di Windesi. Dahulu orang tua kami tidak pernah beli kopi. Dulu mereka tanam kopi dengan karet. Belakangan baru masuk kakao. Jadi sudah sejak zaman Belanda dikenal,” tutur Paduai.

Selain alasan historis, lanjut dia, kopi termasuk komoditas pertanian yang mudah ditanam juga mudah dalam perawatannya.

Terlebih tanaman bernama latin coffea itu hanya butuh dua setengah tahun untuk berproduksi sehingga cocok dengan karakteristik masyarakat lokal Wondama.

Di samping itu, kopi juga telah memiliki pasar yang luas. Jika cocok dikembangkan di Wondama, Paduai menargetkan produksi kopi nantinya bisa memenuhi kebutuhan pasar di lokal Wondama. (Antara)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *