Membangun Papua dengan konstruksi sarang laba-laba

Pekerja asal Papua tengah mengerjakan fondasi sarang laba-laba. ANTARA/HO-Katama

Metro Merauke – Sejak kajian akademisi yang kemudian disempurnakan (Almarhum) Prof. Aziz Djayasaputra di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada awal tahun 2000, Konstruksi Sarang Laba-laba penemuan (Almarhum) Ir. Sutjipto dan (Almarhum) Ir. Ryantori dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) berkembang pesat ke sejumlah wilayah Indonesia.

Keunggulan dari konstruksi ini, terutama untuk wilayah-wilayah yang kerap dilanda gempa dan memiliki tanah lunak, menjadi daya tarik sejumlah daerah untuk mengadopsi teknologi ini.

Bacaan Lainnya

Fondasi berbentuk sarang laba-laba ini mulai banyak dikenal di kalangan ahli sipil dan masyarakat setelah terbukti mengamankan sejumlah bangunan saat gempa Aceh, Nias pada Tanggal 26 Desember 2004 dan Nias (Sumatera Barat) pada tanggal 30 September 2009.

Dari hasil kajian akademisi pada tahun 2005 Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum (sekarang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) menerbitkan surat rekomendasi terhadap penggunaan pondasi ini pada bangunan bertingkat tanggung.

Sejak saat itu sejumlah bangunan di Tanah Air, terutama di daerah-daerah rawan gempa dan kawasan ekstrim lainnya, mulai memanfaatkan teknologi tersebut.

Fondasi juga terbukti mampu menahan beban pesawat udara untuk apron Bandara Juata Tarakan dan Bandara Hang Nadim Batam hingga saat ini. Alasan penggunaan konstruksi ketika itu karena lokasi dari bandara berada di tanah lunak dan pada terminal Bandara Hang Nadim di atas tanah urukan.

Lantas dalam perkembangannya inovasi karya putra bangsa ini banyak digunakan untuk bangunan-bangunan di Indonesia, termasuk di Ibu Kota Jakarta. Beberapa faktor yang membuat fondasi ini dipilih adalah lebih aman dari risiko gempa, cepat dan mudah dilaksanakan, ekonomis serta ramah lingkungan.

Tak perlu keahlian sebagai operator, hanya berbekal mesin pemadat untuk mendirikan bangunan berlantai banyak. ANTARA/HO-Katama

Pertimbangan itu membuat fondasi ini banyak dipilih untuk pengerjaan rumah sakit, sekolah dan beberapa bangunan lainnya yang tentunya mengacu kepada pertimbangan konsultan perencana untuk mengadopsi teknologi ini.
Tembus Papua

Konstruksi ini kembali diuji setelah sejumlah bangunan tidak mengalami kerusakan berarti ketika gempa besar melanda Kota Padang, Sumatera Barat, pada 30 September 2009 dan Palu, Sulawesi Tengah, pada 28 September 2018.

Seiring berjalannya waktu, Papua menjadi salah satu pemerintah daerah yang mengadopsi teknologi fondasi sarang laba-laba. Pertimbangannya ternyata bukan tanah ekstrim dan gempa saja, tetapi lebih pada faktor ekonomi.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia memilih fondasi sarang laba-laba karena pertimbangan kemudahan ekonomi, risiko gempa dan kondisi geografis Papua.

Seperti diketahui harga bahan bangunan di Papua tidak seperti halnya daerah lain di Indonesia. Sebagai contoh semen, umumnya di sejumlah daerah berkisar Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per sak, namun di Papua bisa tembus jutaan per sak.

Padahal komponen semen memberikan kontribusi paling besar dalam membangun fondasi. Sehingga dipilihlah fondasi yang selain kuat juga mampu menekan biaya pembangunannya dan mudah dalam pelaksanaannya.

Penggunaan bahan bangunan terutama semen juga bisa dihemat. ANTARA/HO-Katama

Dapat dibayangkan apabila menggunakan fondasi tiang pancang atau borpile, selain biaya transportasi mahal karena harus mendatangkan tiang beton dan alat berat dari daerah lain menggunakan kapal, juga masih harus membawa melalui jalan darat.

Berdasarkan pertimbangan itu lantas diputus memilih fondasi sarang laba-laba untuk sejumlah bangunan di Papua, khususnya di Kota Jayapura. Beberapa yang sudah berdiri, di antaranya gedung DPRD, gedung Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Pengadilan Negeri Jayapura, Kantor Wilayah Kemenkumham, Kantor Imigrasi, Kantor Badan Pertanahan Nasional, Masjid Agung, Taspen, rumah susun dan yang sedang proses pengerjaan adalah asrama haji.

Dari segi alat untuk membangun fondasi sarang laba-laba, juga bisa dioperasikan siapapun. Hanya butuh mesin pemadat (stamper) dan penggetar (vibrator) lantas untuk pengecoran hanya membutuhkan mesin molen portabel.

Penggunaan semen dan besi beton juga bisa dihemat karena hanya dipakai untuk membuat rusuk (rib) beton dan plat pelapis atas lebih kurang 20 persen dari volume pekerjaan, sedangkan untuk sisanya menggunakan tanah yang dipadatkan.
SDM

Pertimbangan memilih fondasi sarang laba-laba juga berkaitan dengan pengadaan sumber daya manusia (SDM) dalam artian tukang yang tidak membutuhkan keahlian sebagai operator alat berat.

Sebagai contoh dalam pembangunan fondasi Asrama Haji Papua, banyak pekerja (tukang) dari warga lokal yang direkrut.

Sifat dari pembangunan fondasi sarang laba-laba yang padat tenaga kerja yang dibutuhkan hanya tukang yang biasa mengaduk semen, memplester, acian dan merangkai besi.

Dengan demikian dari 40 tukang yang terlibat dalam pengerjaan fondasi hampir 70 persen merupakan SDM lokal. Bahkan pengerjaan diprediksi bakal tepat waktu mengingat saat ini progres sudah 60 persen.

Setidaknya membutuhkan waktu satu hari untuk memberi edukasi kepada tukang yang terlibat mengingat tidak semua tukang paham mengenai fondasi sarang laba-laba.

Saat ini sudah banyak instansi pemerintah yang memutuskan menggunakan konstruksi sarang laba-laba karena secara hitung-hitungkan teknis lebih praktis dan mampu menyerap SDM lokal.

Berdasarkan pengalaman di jalan Pantura Bojonegoro, Dumai (Riau) dan Pontianak (Kalimantan Barat) cukup berhasil dengan baik. Karena itu ke depan bisa digunakan untuk infrastruktur jalan di atas tanah bergerak dan lunak yang cukup banyak di daerah Papua.

Dengan demikian, maka optimistis konstruksi sarang laba-laba akan banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur terkait pemekaran Provinsi Papua.

Seperti diketahui Papua akan dimekarkan menjadi tiga provinsi lagi, yakni Provinsi Papua Selatan dengan Ibu Kota Merauke, Provinsi Papua Tengah dengan Ibu Kota Nabire, dan Provinsi Papua Pegunungan dengan Ibu Kota Jayawijaya.

Dengan pemberdayaan SDM lokal dipastikan pembangunan wilayah-wilayah pemekaran bisa lebih cepat dibandingkan harus mendatangkan dari daerah lain.

Tidak ada target khusus agar konstruksi ini dimanfaatkan semua bangunan di Papua. Namun yang jelas pengalaman dan rekomendasi berbagai pihak membuat konstruksi ini mulai menyebar ke wilayah di timur Indonesia hingga kini. (Ant)

Untuk Pembaca Metro Merauke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.