Peringati Hari Ibu Ke-97, Ketua PIA Ardhya Garini Apresiasi Pejuang Perempuan Indonesia

Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 4 Wilayah III Lanud J. A Di mata, Ny Ade Lia Pertiwi Beny Aprianto, bersama organisasi wanita lainnya tengah melakukan tabur bunga di TMP Trikora Merauke

Metro Merauke– Di bawah langit mendung yang menyelimuti Bumi Anim Ha, suasana hikmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Trikora Merauke pada peringatan Hari Ibu ke-97, Senin (22/12/2025).

Meski rintik hujan mulai membasahi bumi, jajaran pengurus dan anggota PIA Ardhya Garini Cabang 4 Wilayah III Lanud J. A Dimara
beserta organisasi wanita lainnya tetap berdiri tegak, melaksanakan upacara ziarah rombongan sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi para pahlawan bangsa.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang diawali dengan penghormatan umum dan peletakan karangan bunga di monumen utama ini menjadi wahana refleksi yang mendalam.

Kehadiran para perempuan hebat di tengah hujan gerimis pagi itu seolah menjadi simbol keteguhan hati kaum ibu dalam menjaga semangat perjuangan, meski dihadapkan pada tantangan alam maupun zaman yang kian dinamis.

Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 4 Wilayah III Lanud J. A Di mata, Ny Ade Lia Pertiwi Beny Aprianto, menyampaikan apresiasi yang sangat mendalam atas jasa luar biasa para ibu dan perjuangan perempuan Indonesia di seluruh pelosok negeri.

Ade Lia menegaskan, kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa, khususnya di wilayah perbatasan seperti Merauke.

Lebih dari sekadar penghormatan, pesan yang disampaikan juga merupakan sebuah “panggilan” bagi generasi muda perempuan saat ini. Dirinya mengajak seluruh anggota untuk tidak hanya berhenti pada menghormati ibu secara personal, tetapi juga terpanggil untuk meneruskan estafet perjuangan para perempuan hebat pendahulu yang telah merintis jalan kemajuan bagi kaumnya.

Menurut Ketua PIA Ardhya Garini, peringatan Hari Ibu bukanlah sekadar perayaan seremonial biasa yang diisi dengan kemeriahan sesaat. Baginya, tanggal 22 Desember memiliki akar sejarah yang kuat, yang merujuk pada Kongres Perempuan pertama tahun 1928 sebagai tonggak awal pergerakan perempuan Indonesia.

“Momen sejarah tahun 1928 adalah bukti nyata bahwa perempuan Indonesia sudah sejak lama memiliki visi besar tentang kesetaraan. Itu adalah awal di mana perempuan mulai mengambil peran penting dalam pemberdayaan di segala bidang, membuktikan bahwa kita mampu berkontribusi besar bagi negara,” ungkap Ade Lia.

Dirinya pun menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan yang harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, hingga meluas ke ranah publik.

“Ketahanan keluarga yang dijaga oleh seorang ibu akan bermuara pada ketahanan nasional yang kuat, sehingga peran perempuan dalam sektor publik menjadi sangat krusial dan tak tergantikan,” tuturnya.

Tepat di momen Hari Ibu tahun ini, Ade Lia berharap, agar semangat emansipasi yang digaungkan tidak hanya menjadi slogan. Termasuk untuk kaum perempuan dan masyarakat Merauke pun diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas diri dan berani tampil sebagai motor perubahan dalam berbagai aspek pembangunan daerah. (Nuryani)

Untuk Pembaca Metro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *