Metro Merauke – Memperingatan Hari Disabilitas Internasional di Merauke tahun ini diselimuti duka dan seruan keadilan. Ratusan siswa, guru, dan staf Sekolah Luar Biasa (SLB) merayakan hari istimewa ini dengan penuh kesederhanaan dan aksi solidaritas yang menyentuh.
Selain menampilkan kreativitas dari siswa penyandang disabilitas, momen tersebut diwarnai doa bersama untuk mengenang rekan mereka, anak disabilitas, Risky (11) yang menjadi korban pembunuhan tragis di Merauke, 21 Oktober lalu.
Acara yang dipenuhi suasana haru tersebut menjadi panggung bagi para siswa untuk menyalurkan emosi mereka. Berbagai penampilan kreativitas dipersembahkan, mulai dari seni tari, puisi hingga pantomim yang mengungkapkan pesan dan harapan akan perlindungan. Aksi ini menunjukkan bahwa keterbatasan fisik dan mental tidak menghalangi mereka untuk bersuara dan berempati.
Lewat momen Hari Disabilitas Internasional menjadi forum untuk menyuarakan tuntutan tegas kepada aparat penegak hukum.

“Kami gelar kegiatan ini dengan sederhana, dikhususkan kirim doa untuk Alm Kiki dan berharap kepolisian dapat segera mengungkap kasus hingga terang benderang dan menangkap pelakunya,” kata Koordinator kegiatan, Peltu Deni Zulkarnaen kepada wartawan, Rabu (03/12/2025).
Dikatakan Deni Zulkarnaen, kedepan pihaknya akan membentuk pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) serta membentuk National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Kabupaten Merauke.
“Kita harapkan anak disabilitas terus semangat dan bekerja keras memberikan yang terbaik lewat potensi yang dimiliki,” tutur Deni Zulkarnaen.
Hal tersebut selaras dengan aksi solidaritas di Hari Disabilitas sekaligus menjadi pesan kuat bahwa penyandang disabilitas di Merauke menolak kekerasan dan menuntut perlindungan maksimal dari negara. (Nuryani)
















































