​Pangdam XXIV Mandala Trilora: Kalau Ada yang Mau Nobar ‘Pesta Babi’ Undang Kami

Pangdam XXIV/Mandala Trikora, Mayor Jenderal TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia

Metro Merauke – Menanggapi polemik dan potongan video terkait Film Pesta Babi yang tengah viral di media sosial, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXIV/Mandala Trikora, Mayor Jenderal TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia, memberikan respon terbuka..

Dirinya tidak melarang masyarakat untuk menyaksikan tayangan tersebut. Pangdam meminta agar publik tidak langsung menelan mentah-mentah informasi yang beredar tanpa adanya konfirmasi dari pelaku sejarah di lapangan.

Bacaan Lainnya

Pangdam menilai banyak hal keliru dalam narasi video yang beredar, terutama mengenai klaim hak ulayat dari tokoh-tokoh yang ditampilkan.

“Seperti salah satu figur, yakni Mama Yasinta, yang menjadi tokoh sentral dalam narasi penolakan tersebut. Apakah benar-benar memiliki hak ulayat di wilayah yang sedang digarap oleh pemerintah pusat? Berdasarkan data dari lapangan, pihak yang memiliki hak ulayat sah justru telah menerima adat, membuat acara resmi, dan mendukung penuh jalannya program pemerintah,” ucap Pangdam, Jumat (29/05/2026).

​Sebagai bentuk keterbukaan, justru Pangdam menantang pihak-pihak yang ingin menggelar nonton bareng (nobar) untuk melibatkan pihak TNI guna membuka ruang diskusi yang objektif.

​”Saya tidak melarang itu (nobar). Dan saya imbau, kalau ada masyarakat yang mau nonton film ‘Pesta Babi’, undanglah kami dan marilah kita berdiskusi seperti di tempat lain. Kita duduk bersama, lalu kita bedah benar atau tidaknya. Kita ini kan pelaku-pelaku sejarah di lapangan,” tegas Pangdam.

​Pangdam meyakini masyarakat asli Merauke dan Papua Selatan sudah sangat cerdas dalam melihat kenyataan yang ada di lapangan, sehingga tidak akan mudah terprovokasi oleh kepentingan segelintir kelompok yang ingin menghambat kemajuan daerah.

Pangdam mengajak semua pihak untuk menyikapi dinamika pembangunan ini dengan kepala dingin dan pikiran yang jernih demi kesejahteraan jangka panjang masyarakat Papua. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *