Metro Merauke – Gubernur Papua Selatan, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., menandatangani Komitmen Bersama Percepatan Eliminasi Kusta pada Konferensi Nasional Kusta 2026 yang digelar di Puri Agung Convention Hall, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (10/07/2026).
Penandatanganan tersebut dilakukan bersama 37 gubernur lainnya sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung percepatan eliminasi kusta menuju Indonesia bebas kusta, bebas stigma, dan bebas eksklusi sosial pada tahun 2030. Kehadiran Gubernur Apolo Safanpo sekaligus menegaskan dukungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan terhadap penguatan kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan kusta.
Konferensi Nasional Kusta 2026 diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan sebagai forum konsolidasi nasional yang dihadiri Menteri Koordinator PMK, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Sasakawa Health Foundation, 38 gubernur, kepala daerah prioritas, akademisi, organisasi profesi, mitra pembangunan, serta komunitas penyintas kusta.
Melalui konferensi ini, pemerintah menargetkan penguatan komitmen kepemimpinan nasional dan lintas sektor untuk mencapai eliminasi kusta, menghapus stigma terhadap penyintas, memperkuat kebijakan berbasis bukti, mendorong dukungan anggaran yang berkelanjutan, melindungi hak-hak penyintas dari diskriminasi dalam pelayanan publik, pendidikan, dan pekerjaan, serta melibatkan penyintas sebagai mitra strategis dalam penyusunan kebijakan.
Forum tersebut juga menjadi momentum peluncuran Gerakan Nasional Melawan Stigma Kusta sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia bebas kusta pada tahun 2030.
Dalam dokumen konferensi disebutkan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan beban kasus kusta tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Brasil. Pada tahun 2025 tercatat sebanyak 16.292 kasus baru, sehingga dibutuhkan percepatan deteksi dini, pengobatan hingga tuntas, serta penghapusan stigma melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, sektor swasta, dan masyarakat.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, saat memberikan sambutan pada Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu (11/03/2026), menegaskan bahwa kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan sehingga masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri.
“Jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak. Justru itu menunjukkan sistem deteksi kita bekerja dengan baik. Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati, karena obatnya ada dan pengobatannya bisa selesai,” kata Budi Gunadi Sadikin.
Pada kesempatan yang sama, Menkes juga menegaskan strategi pemerintah dalam memutus rantai penularan kusta.
“Strateginya jelas: temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan, dr. Benedicta Herlina Rahangiar, mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Selatan akan segera menindaklanjuti arahan Gubernur Apolo Safanpo melalui penguatan komitmen lintas sektor di daerah.
“Sebagai tindak lanjut atas arahan Bapak Gubernur Papua Selatan, kami akan segera melaksanakan pertemuan dan penandatanganan komitmen bersama seluruh kepala daerah, kepala dinas kesehatan kabupaten, organisasi perangkat daerah, serta lintas sektor yang melibatkan TNI-Polri, DPR, MRP, akademisi, organisasi profesi, mitra pembangunan, tokoh adat, dan tokoh agama dalam rangka percepatan eliminasi kusta, sekaligus percepatan penanganan AIDS, tuberkulosis, malaria, serta peningkatan kesehatan ibu dan anak,” ujar dr. Herlina.
Ia menjelaskan, tantangan penanggulangan kusta di Papua Selatan masih memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data tahun 2025, prevalence rate kusta mencapai 8,13 per 10.000 penduduk, meningkat 1,76 poin dibanding tahun sebelumnya, sementara target nasional berada di bawah 1 per 10.000 penduduk.
Selain itu, selama tahun 2025 tercatat 221 kasus baru kusta, dengan 180 kasus terjadi pada orang dewasa dan sisanya pada anak-anak. Adapun Case Detection Rate (CDR) mencapai 40,21 per 100.000 penduduk, jauh di atas target nasional sebesar 5 kasus per 100.000 penduduk.
Menurut dr. Herlina, setiap kasus yang ditemukan langsung ditindaklanjuti dengan pengobatan sesuai standar. Namun, salah satu tantangan yang masih dihadapi daerah adalah keterlambatan distribusi obat dari pemerintah pusat.
“Kami memastikan setiap pasien yang ditemukan segera mendapatkan pengobatan. Kendala yang masih kami hadapi adalah terkadang terjadi keterlambatan distribusi obat dari pemerintah pusat. Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas kami,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Papua Selatan untuk memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis sebagai upaya deteksi dini berbagai penyakit, termasuk kusta.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Papua Selatan untuk mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis setiap tahun. Melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin, berbagai penyakit, termasuk kusta, dapat dideteksi lebih dini sehingga penanganannya menjadi lebih cepat dan peluang kesembuhannya semakin tinggi,” tutupnya.
Komitmen yang ditandatangani Gubernur Apolo Safanpo bersama para gubernur se-Indonesia diharapkan menjadi landasan penguatan kebijakan daerah dalam mendukung target nasional eliminasi kusta. Melalui sinergi lintas sektor, pemerintah menargetkan terciptanya layanan kesehatan yang lebih inklusif, peningkatan deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta penghapusan stigma terhadap orang yang pernah mengalami kusta demi mewujudkan Indonesia bebas kusta pada tahun 2030. (Nuryani)














































