Metro Merauke – Kebahagiaan dan rasa syukur tengah menyelimuti warga 9 marga di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Pasalnya, setelah sekian lama dinanti, pembangunan Kebun Kemitraan (Plasma) sawit berbasis masyarakat adat akhirnya resmi dimulai.
Langkah awal ini ditandai dengan digelarnya upacara adat sebagai wujud syukur kepada para leluhur hingga lapisan masyarakat, Kamis (25/06/2026).
Kegiatan dihadiri masyarakat 9 marga, Maikuin, Koula, Gakuin, Doukiuin, Basikuin, Mahuze Milafo, Mahuze, Kaize, Basik basik, Pemerintah Kabupaten, Manager Direktur TSE Group, Mr Kim In Lae, Direktur PT Bangun Papua Luhurkarya, Tulus Sianipar serta lapisan masyarakat.
Masyarakat menaruh harapan yang sangat besar agar kebun plasma ini dapat segera berjalan dan beroperasi penuh, sehingga manfaat ekonominya bisa langsung dirasakan untuk meningkatkan kesejahteraan serta menciptakan lapangan kerja baru bagi warga setempat.
Berbeda dengan skema kebun sawit pada umumnya di Papua Selatan yang menggunakan manajemen satu atap (dikelola penuh oleh perusahaan inti), proyek kali ini mengusung model pengelolaan mandiri.
Koperasi Inggyash Ghuzi menjadi wadah usaha yang dibentuk 9 marga tersebut akan terlibat aktif secara penuh mulai dari perencanaan, pembukaan lahan, hingga pengelolaannya.
Ketua Koperasi Inggyash Ghuzi, Richard Nosai Koula, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini.
”Pembangunan Kebun Kemitraan atau Plasma ini sudah lama ditunggu oleh masyarakat, dan kami bangga pada akhirnya dapat terwujud,” ujar Richard dengan penuh semangat di tengah prosesi adat.

Koperasi Inggyash Ghuzi saat ini telah mengantongi Hak Guna Usaha (HGU) seluas 4.607,2 hektar dari Kementerian ATR/BPN. Dari total lahan tersebut, seluas 3.755 hektar akan dialokasikan untuk area perkebunan, sementara sisa lahan seluas 852 hektar dicadangkan sebagai areal Nilai Konservasi Tinggi (NKT) demi menjaga kelestarian lingkungan.
Untuk memastikan proyek berjalan sukses, koperasi menargetkan pembukaan lahan secara bertahap. Tahun pertama menargetkan pembangunan dan penanaman kelapa sawit seluas 500 hektar. Perluasan lahan secara berkala hingga mencapai total target 3.700 hektar.
Demi menjaga kualitas budidaya, koperasi juga telah menandatangani kerja sama dengan PT Bangun Papua Luhurkarya (BPL) sebagai mitra pendamping.
PT BPL bertugas memastikan seluruh operasional kebun menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP) agar tetap ramah lingkungan dan efisien.
Inisiatif mandiri ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Daerah setempat. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Josefa L. Rumaseu, berharap kehadiran pendamping bisa meningkatkan keterampilan agronomi masyarakat.
Di sisi lain, pihak Pemkab Merauke berharap langkah mandiri ini sebagai contoh percontohan yang luar biasa karena masih sangat jarang ditemukan di Papua Selatan.
Dukungan penuh juga mengalir dari internal masyarakat. Perwakilan tokoh adat serta pemuda menyatakan siap mengawal dan mengamankan jalannya pembangunan di lapangan.
Mereka berkomitmen untuk selalu mengedepankan musyawarah mufakat jika menghadapi kendala internal di masa depan demi kelancaran proyek yang menjadi tumpuan kesejahteraan bersama ini. (Nuryani)














































