Metro Merauke – Di ufuk timur Indonesia, di mana matahari pertama kali menyapa Nusantara, sebuah kisah tentang ketulusan melampaui sekat seragam dan institusi.
Ini bukan sekadar cerita tentang tugas kepolisian, melainkan tentang seorang pria bernama Briptu Alexander Rumangun yang memilih menjadi jembatan bagi mimpi seorang anak muda di tapal batas.
Perjalanan ini bermula dua tahun silam di Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Sebuah kampung bersahaja di perbatasan Republik Indonesia (RI)-Papua Nugini (PNG). Saat itu, Briptu Alex, yang berdinas di Satuan Binmas Polres Merauke sedang berkunjung bersama keluarganya. Di situ (Rawa Biru), ia bertemu dengan Christofer Dimar.
Seorang pemuda asli Papua (OAP) yang menyimpan bara api di dadanya, keinginan kuat untuk menjadi prajurit TNI.
Namun, kenyataan tak semanis harapan. Kepada Alex, Christo sapaan akrabnya, bercerita dengan polosnya tentang kegagalan demi kegagalan yang ia rasakan. Pemuda yang memiliki hobi main bola itu masih ingat betul, tiga kali telah mencoba menembus seleksi Bintara TNI AD, dan tiga kali pula ia harus pulang dengan tangan hampa. Keterbatasan akses dan pembinaan di daerah pelosok menjadi tembok tebal yang sulit ia robohkan sendiri.
Melihat kegigihan di mata Christo, Alex tidak tinggal diam. Ia merasa tanggung jawabnya sebagai anggota Polri bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga membangun manusia.
Menggunakan sisi kreatifnya, Alex mengunggah harapan Christofer Dimar melalui media sosial TikTok. Ia ingin dunia tahu bahwa di batas negeri, ada mutiara yang butuh dipoles.
Bak gayung bersambut, unggahan itu ternyata sampai ke tujuan yang tepat. Video tersebut menarik perhatian Komandan Kodim 1707/Merauke, Letnan Kolonel Infanteri, Johny Nofriady.
Sang Letkol, yang dikenal berjiwa sosial, merespons langsung melalui kolom komentar. Sebuah janji dibuat:TNI siap membina Christofer.
Tanpa membuang waktu, Alex kemudian kembali menjemput Christo dari Rawa Biru dan membawanya langsung ke Makodim 1707/Merauke. Di sana, kolaborasi indah terjadi. Di bawah bimbingan intensif personel Kodim atas restu Letkol Johny Nofriady, Christo mulai menempa fisik dan mentalnya dengan lebih terarah hingga akhirnya dia mendaftar dan mengikuti seleksi Bintara TNI AD Tahun 2025.

Perjuangan Christo untuk mengenakan seragam loreng tidaklah mudah. Namun, di bawah bimbingan dan motivasi yang diberikan Briptu Alex, Christo berhasil membuktikan kemampuannya di tes keempat.
Kesabaran dan kerja keras itu akhirnya berbuah manis, pada seleksi Bintara TNI AD 2025. Nama Christofer Dimar terpampang sebagai salah satu calon siswa yang dinyatakan lulus. Penantian panjang dan rasa sakit yang dirasakan pria kelahiran 2005 silam akibat beberapa kali gagal, seketika terbayar lunas.
“Saya hanya berusaha menjadi suara bagi adik-adik kita di kampung yang punya mimpi besar, tapi belum punya jalan,” ujar Briptu Alexander.

Keberhasilan ini pun sampai ke telinga pimpinan Briptu Alexander Rumangun. Kapolres Merauke, AKBP Leonardo Yoga, S.I.K., M. M., secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada anggotanya tersebut.
Ia bahkan menyatakan rasa bangganya atas inisiatif Briptu Alex yang menunjukkan sisi humanis Polri, sosok yang tidak hanya hadir saat ada masalah hukum, tetapi kehadiran polisi di tengah masyarakat harus mampu menjadi solusi dan berkontribusi langsung dalam membangun masa depan generasi muda Papua di wilayah terpencil dan perbatasan.
Leonardo Yoga mengharapkan sinergitas antara Polri dan masyarakat yang ditunjukkan melalui kedekatan Briptu Alex ini, hendaknya dapat menjadi contoh bagi personel lainnya.
”Apa yang dilakukan Briptu Alex adalah wujud nyata dari Polri yang humanis. Ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai pembina masyarakat, tetapi juga menjadi kakak dan mentor bagi putra daerah di tapal batas untuk mewujudkan cita-citanya,” tutur Leonardo Yoga, Jumat (11/07/2025).
Keberhasilan Chritofer Dimar disambut haru keluarga dan warga Kampung Rawa Biru. Lulusnya pemuda OAP dari daerah perbatasan ini menjadi simbol harapan baru bagi anak-anak muda di pelosok Papua, bahwa dengan kegigihan dan bimbingan yang tepat, tidak ada mimpi yang mustahil.
Kini, Christofer Dimar siap menjalani pendidikan untuk menjadi prajurit TNI AD, membawa kebanggaan bagi kampung halamannya dan rasa syukur bagi sang mentor, Briptu Alexander Rumangun, yang telah menemaninya berjuang dari titik terendah hingga mencapai puncak impian.
Kisah Briptu Alexander Rumangun dan Christofer Dimar, adalah bukti bahwa pengabdian tidak memiliki batas birokrasi. Seorang polisi bisa menjadi jalan dan jembatan bagi lahirnya seorang prajurit TNI dari ujung timur Indonesia, asalkan dilandasi dengan ketulusan. (Nuryani)
















































