Metro Merauke – Dalam rangka melestarikan budaya dan bahasa daerah, dosen Universitas Musamus (Unmus) menggelar Focus Group Discussion (FGD) pengembangan desa mitra revitalisasi bahasa daerah Marori di Kampung Wasur. Kegiatan FGD yang digelar di salah satu hotel di Merauke, dibuka langsung Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Musamus, Izak Habel S, Rabu (17/09/2025).
Dijelaskan Izak Habel, FGD ini merupakan bagian dari Tri Dharma Universitas yang membawa dosen, masyarakat lokal, mahasiswa, dan pemerintah untuk bersama-sama melestarikan bahasa dan budaya Marind, khususnya bahasa daerah Marori.
Menurutnya FGD tersebut sangat penting dilakukan. Sebab, katanya, seiring perkembangan zaman yang semakin maju, telah mengubah paradigma berpikir dan bertutur masyarakat. Banyak anak muda yang sudah berkurang dalam berbahasa daerah dan penuturnya juga berkurang. Oleh karena itu, perlu dilakukan inovasi untuk menjaga dan melestarikan budaya, salah satunya melalui kegiatan FGD revitalisasi bahasa daerah Marori.
“Tujuan dari FGD ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Marori yang dapat digunakan di sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, pelestarian budaya ini dapat terus berlanjut meskipun terjadi pergantian zaman dan generasi,” terang Izak kepada Metro Merauke.
“Dari FGD ini diharapkan adanya masukan untuk menghasilkan kamus dan materi digital tentang bahasa Marori yang berkualitas, sehingga dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Hasil FGD ini juga akan digunakan sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah,” jelasnya.
Hadir dalam FGD Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung yang merupakan Mitra strategis Unmus dan memiliki komitmen kuat melakukan upaya pelestarian budaya daerah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, Daud Holenger menyebut, pemerintah sangat mengapresiasi langkah Unmus menginisiasi FGD revitalisasi bahasa daerah sebagai upaya pelestarian bahasa daerah Marori.
“Pemerintah akan mendukung upaya pelestarian budaya daerah. Rancangan desain untuk pelestarian bahasa Marori akan segera diajukan ke pemerintah,” ujarnya.
Ditambahkan, keterlibatan masyarakat lokal, mahasiswa, dan pemerintah dalam FGD ini sangat penting, guna mendapatkan masukan dan perbaikan dalam pengembangan kualitas mutu bahan ajar. Dengan demikian, hasil FGD dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat meningkatkan nilai budaya untuk menjaga nilai-nilai leluhur.
“Memang sejauh ini di Papua Selatan, nyaris tidak ada referensi pendukung kebudayaan daerah. Oleh karena itu, kegiatan FGD ini sangat penting untuk mengembangkan bahan ajar dan pelestarian budaya daerah,” tutur Daud Holenger.
Sehingga, dengan adanya FGD ini, diharapkan pelestarian budaya dan bahasa daerah Marori dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi daerah lain di Papua Selatan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya dan bahasa daerah. (Nuryani)
















































