Metro Merauke – Suku Biak adalah salah satu suku yang ada di Papua, yang masih memegang teguh tradisi adat istiadat leluhurnya.
Satu di antaranya adalah tradisi bayar mas kawin atau ararem. Proses ini dilakukan keluarga laki laki yang akan meminang calon mempelai wanita.
Di manapun Suku Biak berada, tradisi bayar mas kawin ini selalu dilakukan. Tradisi inipun digelar di Kota Merauke, Kabupaten Merauke, Papua pada Senin (07/02/2022).
Warga Kota Merauke antusias menyaksikan prosesi peminangan secara adat yang digelar keluarga suku Biak di sana.
Tradisi bayar mas kawin ini, dimulai dengan arak arakan rombongan pejalan kaki dari keluarga calon mempelai pria, ke rumah calon mempelai wanita.
Sepanjang perjalanan tarian wor (tarian khas Suku Biak) mengiringi rombongan. Penari remaja berada di barisan depan mengiringi rombongan.
Calon mempelai pria di barisan tengah, berjalan didampingi keluarga dan kerabat, dengan membawa sejumlah barang yang akan dijadikan mas kawin.
Keluarga calon mempelai pria membawa sebanyak 80 piring gantung, dan berbagai kebutuhan lain yang telah disepakati kedua pihak sebelumnya.
Ketua Kerukunan Keluarga Biak di Merauke, Sergius Womsiwor didampingi pengurus kerukunan, Obeth Rumrar menjelaskan, prosesi peminangan yang secara adat sudah berlangsung turun temurun. Tradisi ini terus dilestarikan sekalipun berada di perantauan.
“Sesuai tradisi, saat prosesi peminangan, keluarga Biak membawa barang berupa piring gantung, gelang serta barang lainnya dan sejumlah uang yang sudah lebih dulu ditujui bersama,” kata Womsiwor.
Piring gantung, serta gelang yang dibawa saat pembayaran mas kawin, memiliki bernilai istimewa yang dipersembahkan kepada pihak perempuan.
Namun pembayaran mas kawin bukan berarti membeli perempuan, melainkan simbol untuk menyatukan dua keluarga.
Prosesi ini menjadi bukti keragaman budaya Nusantara dan orang Biak di Merauke tetap bersatu mempertahankan tradisi secara turun temurun.
Sergius Womsiwor berharap, suku Biak meski berada di perantauan, dapat menjaga tradisi dan kultur budaya daerah asalnya.
Sebab, budaya merupakan simbol identitas diri suatu suku atau daerah yang mesti diperkenalkan dan dilestarikan sebagai warisan kepada anak cucu.
“Dalam kegiatan adat, muda-mudi suku Biak yang masih sekolah juga ada yang dilibatkan, sehingga mereka bisa mengenal adatnya sejak dini,” ucapnya.
Usai proses bayar mas kawin, dilanjutkan dengan pernikahan kudus dan catatan sipil. “Kita mohonkan kepada Tuhan agar semua berjalan lancar,” ujarnya.
Makna Piring Gantung bagi Suku Biak
Piring gantung atau keramik Tiongkok, awalnya dibawa para pedagang Cina puluhan tahun lalu, untuk ditukarkan dengan burung Cendrawasih.
Sejak saat itu, piring gantung memiliki fungsi sosial budaya yang tinggi di kalangan Suku Biak.
Piring gantung bermakna kehormatan, harga diri, dan tanda penghargaan yang besar bagi masyarakat Biak.
Setiap piring gantung memiliki variasi motif. Umum ditemui adalah motif burung Cendrawasih, tifa, bunga, dan ikan. Harganya pun bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada motif dan usia pembuatan piring gantung. (Nuryani/Arjuna)
















































