Ribuan Umat Hadiri Peresmian Gereja Injili Di Indonesia Jemaat Anugrah Sentani

Prosesi gunting pita yang dilakukan Pj Sekda Papua, Derek Hegemur didampingi Ketua Panitia Pembangunan Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H

Metro Merauke – Ribuan umat menghadiri peresmian dan pentahbisan Gereja Injili Di Indonesia atau GIDI Jemaat Anugrah di Jalan Sosial, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua yang berdiri di atas lahan seluas 1,4 hektare pada Sabtu (25/11/2023).

Mereka yang hadir tidak hanya umat GIDI Jemaat Anugrah, dan umat GIDI dari gereja lain di Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, serta Kabupaten Keerom. Namun pentahbisan Gereja Injili Di Indonesia Jemaat Anugrah juga dihadiri umat dari denominasi gereja lain.

Bacaan Lainnya

Pentahbisan juga dihadiri jajaran pejabat Pemprov Papua, mewakili Pj Gubernur Papua, yakni Pj Sekda Papua, Derek Hegemur, Plt Asisten I Setda Provinsi Papua, Yohanis Walilo, pimpinan OPD di lingkungan Pemprov Papua, perwakilan Pemkab Jayapura, Kapolres Jayapura, para anggota DPR Papua, DPRD Kabupaten Puncak Jaya, DPRD Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, Wakil Presiden GIDI, Usman Kobak, para tokoh gereja, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua penitia pembangunan yang juga Ketua panitia peresmian/pentahbisan Gereja, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H mengatakan ia dipercaya sebagai ketua pembangunan pada 2020 silam.

Ia menggantikan ketua panitia pembangunan sebelumnya yang meninggal dunia, Sandius Wonda yang merupakan sahabatnya sejak kecil.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja GIDI Jemaat Anugrah Sentani, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H mendampingi Pj Sekda Papua, Derek Hegemur saat pentahbisan gereja

“Saya tertantang mengambil alih menyelesaikan pembangunan gereja ini karena semangat teman saya, Sandius Wonda. Makanya saya tidak akan tandatangan di atas prasasti. Tapi saya berikan penghormatan itu kepada beliau lewat anaknya. Saya dan alm bersama-sama sejak kecil,” kata Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H.

Menurut Wakil Ketua I DPR Papua itu, selain sebagai ketua panitia pembangunan Gereja GIDI Jemaat Anugrah, ia juga dipercaya menangani pembangunan Kantor Klasis GIDI di Telaga Maya, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

“Puji Tuhan [pembangunan Gereja Jemaat Anugrah] di sini selesai dan di sana [pembangunan Kantor Klasis GIDI juga] selesai,” ucapnya.

Yunus Wonda memaparkan, pembangunan Gereja GIDI Jemaat Anugrah menghabiskan dana Rp 21 miliar 500 juta lebih. Sumber dana berasal dari warga jemaat, bantuan Pemprov Papua senilai Rp 13 miliar, dan bantuan para donatur di antaranya mantan Gubernur Papua dua periode, Lukas Enembe dan keluarga.

Pemkab Puncak Jaya, Bupati Puncak Jaya Yuni Wonda dan keluarga, Alm. Wakil Bupati Puncak, Refinus Telenggen, Pdt. Lipus Biniluk dan keluarga, Nesco Wonda, Yumin Wonda serta Gereja GIDi wilayah Yamo, wilayah Ilu, dan para kader gereja lainnya.

Pj Sekda Papua, Derek Hegemur menandatangani prasasti peresmian Gereja GIDI Jemaat Anugrah Sentani didampingi Ketua Panitia Pembangunan, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H

Selain itu, bantuan para kader gereja juga ada yang memberikan bantuan berupa bahan bangunan. Termasuk mantan Sekda Papua, Heri Dosinaen.

“Stuktur bangunan gereja ini dirancang untuk 10 hingga 20 lantai. Daya tampung gereja 4.700 orang. Atas nama Jemaat sebagai ketua panitia saya menyampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak yang membantu pembangunan Gereja GIDI Jemaat Anugrah ini,” ucapnya.

Dalam sesi wawancara, Yunus Wonda atas nama panitia dan Jemaat GIDI Anugrah kembali mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, khususnya  Pemprov Papua, yang memberikan perhatian intens untuk membantu pembangunan gereja. 

Begitu pula kader-kader gereja GIDI di antaranya tokoh Papua, Lukas Enembe dan kader-kader gereja lainnya yang memberikan perhatian kepada pembangunan gereja itu.

Bantuan dari Pemprov Papua diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama Rp 7 miliar dan tahap kedua Rp 5 miliar, sekaligus dengan bantuan untuk peresmian/pentahbisan gereja.

Prosesi penyerahan kunci gereja kepada para tokoh gereja

“Gereja ini diberikan nama Anugrah oleh para orang tua dulu (pendiri gereja). Kami merasakan bahwa hari ini semua apa yang kami lakukan, sehingga pembangunan gereja bisa selesai, karena anugrah Tuhan. Butuh waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan pembangunan gereja. Saya panitia yang keempat yang diberikan tanggung jawab oleh Jemaat untuk menyelesaikan pembangunan gereja,” ujarnya.

Ia menyatakan, secara kasat mata gedung gereja tersebut begitu mewah. Namun yang menjadi tantangan bagi para gembala, wakil gembala gereja dan jemaat ke depan, adalah bagaimana agar gereja berkapasitas 4.500 orang itu bisa terisi penuh oleh warga jemaat.

“Saya tidak tahu kenapa diawal [pembangunan] Ketua Panitia sebelumnya Alm (Sandius Wonda) berpikir gereja ini harus besar. Mungkin 20 atau 30 tahun ke depan kita tidak tahu. Dengan pesatnya pembangunan daerah itu. Pembangunan wilayah di sini. Mungkin akan terjadi mujizat,” kata Wonda.

Selain itu, ke depan Gereja GIDI Jemaat Anugrah diharapkan bisa menjadi gereja utama untuk GIDI. Sebab, gereja GIDI pertama di Kota dan Kabupaten Jayapura hanya dua, yakni Gereja GIDI Anugrah dan Gereja Imanuel. 

Ketua Panitai pembangunan gereja GIDI Jemaat Anugrah, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H

“Dulu sebelum pecah jadi Gereja GIDI, Gereja Baptis, Gereja Kingmi, itu kami ibadahnya semua satu tempat di Pos 7. Pada tahun 1980, setelah itu gereja mulai pecah organisasinya. Baptis keluar, bikin sendiri. GIDI keluar bikin sendiri Kemah Injil juga keluar.”

“GIDI kita keluar jadi dua wilayah. Wilayah Yamo itu langsung ke sini (Jemaat Anugrah) . Wilayah Tolikara dan Bogo itu langsung di [Jemaat] Imanuel itu. Jadi dua gereja itu adalah gereja GIDI pertama di Kabupaten Jayapura, provinsi induk (Papua), setelah itu muncul beberapa gereja dan hari ini jumlahnya makin besar,” imbuhnya.

Katanya, tantangan terbesar hari ini kepada gembala dan wakil gembala, bagaimana bisa menghadirkan umat sebanyak-banyaknya. Sebab, sayang apabila gereja berkapasitas 4.500 itu tidak dipenuhi jemaat, karena jumlah jemaat yang ada kini bahkan belum sampai setengah dari kapasitas gereja. 

“Ini tanggung jawab yang besar. Tantangan terbesar. Pembangunan itu kapanpun pasti akan jadi, tapi membangun untuk menghadirkan umat itu yang menjadi tantangan besar,” kata Yunus Wonda.

Sementara itu, Wakil Ketua Gembala Gereja GIDI Jemaat Anugrah, Pdt. Paipen Wonda, M. Th mengatakan pembangunan awal gereja dimulai pada 1981 dan diresmikan pada 1983. 

“Peresmian hari ini (25/11/2023) bertepan dengan Ultah Gereja ke-42 tahun 11 bulan, dan Gereja GIDI Jemaat Anugrah ke depan akan bertumbuh dan merangkul semua Jemaat dan akan menjadi terang merangkul semua orang dari berbagai suku dan ini menandakan penginjilan belum selesai,” kata Pdt. Paipen Wonda, M.Th

Di tempat yang sama, Pj Sekda Papua, Derek Hegemur mewakili Pj Gubernur Papua, Ridwan Rumasukun mengatakan dalam sejarah perkembangan pembagunan di Papua, tidak ada cerita pemerintah jalan sendiri.

Akan tetapi, gereja selalu berdiri di depan dan pemerintah mengikutinya. Pemerintah terus mendukung pertumbuhan iman jemaat dan semoga melalui peristiwa suka cita ini menjadi momen mempererat kebersamaan. 

“Ini menjadi catatan sejarah bagi kita semua dalam penyelenggaraan pemerintahan dan membangun tumbuh kembangnya umat di Tanah Papua,” kata Derek Hegemur.

Menurutnya, pembangunan rumah Tuhan itu butuh ketabahan, dan mental baja karena tidak ada membangun rumah Tuhan selesai dalam setahun. Pembangunan yang selesai dalam waktu singkat, adalah bangunan pemerintah karena anggarannya telah disiapkan dan ditentukan setiap tahun anggaran. (Arjuna)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *