Metro Merauke – Grrrrmmm… duk-duk-duk-duk…
Lambung KMP Muyu GT 383 itu bergetar halus. Bukan getar karena ombak, tapi karena napas mesin dieselnya yang baru dinyalakan sejak jam lima pagi. Dengungnya berat, panjang, mengalahkan riak keruhnya air Sungai Maro, Merauke hari itu.
Asap solar tipis naik, bercampur bau lumpur. Suasana itu sekaligus menandakan kapal mau berangkat. Di atas Dermaga Kelapa Lima, Merauke, Yuliana 48 tahun memeluk tasnya erat. Di bawahnya, karung-karung beras yang jadi harapannya sudah ditata rapat di dek. Tidak boleh basah.
Dulu, dengan dengung yang sama, dia selalu cemas. Kalau mau bawa beras dan barang lainnya dari Bade, Mappi ke kampung di Kabupaten Boven Digoel, harus pakai perahu kayu. Perahunya kecil, mesinnya kadang mati di tengah pelayaran. Kalau sudah masuk ‘kepala arus’, semua diam. Tidak ada pelampung.
Sekarang beda. Sejak ada Kapal Motor Penumpang (KMP) Muyu milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dia bilang su (sudah) tenang.
“Kalau dulu kita selalu cemas. Sekarang ada kapal ASDP, barang su aman sampai tujuan dan kita yang naik juga tenang karena disediakan jaket pelampung,” kata Yuliana ditemui di dermaga.
Cerita Yuliana ini dialami banyak orang di Papua Selatan. Di sini, sungai itu jalan tol. Kalau tolnya putus, harga di pasar naik. Beras naik, gula naik, semua naik. Itu yang dulu sering terjadi. Pasokan telat karena perahu tidak berani jalan.
Warsifah 38 tahun, warga Kurik VI, Merauke yang mulai berdagang di Bade sejak 2006 merasakannya. Dulu dia rugi terus. Barang dagangannya sering basah karena pakai perahu biasa yang tidak ada tutupnya. Kena hujan, kena ombak. Rugi, jadi terpaksa jual mahal.

“Sekarang sejak ada KMP ASDP yang jadwalnya teratur dan aman, pasokan lancar. Sa (saya) bisa jual dengan harga wajar. Alhamdulillah saat ini su enak,” ujarnya sambil senyum. Dia sekarang langganan KMP Muyu tiap dua minggu.
Di momen Hari Perhubungan Nasional 2026 ini, apa yang dirasakan Yuliana dan Warsifah itu sebenarnya adalah bukti kerja ASDP dalam Penguatan Jalur Transportasi Laut Nasional. Bukan di Jawa, tapi di sini, di ujung timur Indonesia.
ASDP Cabang Merauke sekarang punya empat kapal perintis. Itu yang jadi tulang punggung. KMP Bambit GT 508 rute Merauke-Atsy-Agats-Senggo. KMP Muyu GT 383 rute Merauke-Kimam-Bade-Getentiri. Dari Pomako ada KMP Kokonao GT 263 dan KMP Binar GT 224 untuk layani Agats dan Ewer.
Empat kapal itu bukan kapal sembarangan. Semua sudah punya sertifikat ISM Code dan diawasi BKI. Jadi bukan cuma jalan, tapi aman.
General Manager ASDP Merauke, Antoni Nugraha Utama bilang, tugas mereka di sini dua. Logistik harus sampai, tapi keselamatan tidak bisa ditawar. Itu hukumnya.
“Arus melintang dan kayu hanyut itu bahaya yang selalu ada. Belum lagi lumpur yang bikin dangkal. Itu tantangan kami tiap hari,” kata Antoni, kepada Metro Merauke, Selasa (29/09/2026).
“Misi kami pasokan sampai, tapi safety first. Kalau cuaca tidak bagus, kami tunda. Tidak ada kompromi. Mending telat satu hari dari pada celaka,” tegasnya.
Makanya, sambung Antoni, sebelum berangkat semua dicek. Surat kapal dicek, mesin utama dan mesin cadangan dicek. Pelampung juga dicek, jumlahnya harus 120 persen dari penumpang.
Muatan juga ditimbang dan manifest dicocokkan. Tidak boleh lebih tonase. Tidak kalah penting, cuaca juga dicek dari BMKG dan pasang surut. Semua sekarang sudah pakai Ferizy, jadi data penumpang jelas.
Diuraikan, data dari Januari sampai Agustus 2026 saja, muatan yang dibawa empat kapal itu sudah lebih dari 15 ribu ton. Penumpangnya lebih dari 28 ribu orang. Rata-rata tiap bulan 732 ton beras, semen, BBM dan bahan bangunan masuk ke pedalaman.
Angka 15 ribu ton ini bukan sekadar angka di laporan. Ini adalah bukti nyata ASDP dalam Penguatan Jalur Transportasi Laut Nasional itu dirasakan warga. Jalur yang dulu dianggap rugi dan sepi, sekarang jadi jalur hidup.
Dikatakan Antoni, lewat sistem full charter, kapal bisa disewa lengkap sama ABK dan BBM. “Jadi kalau ada perusahaan mau bawa alat berat atau air bersih ke kampung terpencil, bisa. Rutenya fleksibel, dari Merauke-Asmat-Timika sampai Jayapura-Sarmi,” jelasnya.
Dan di sinilah kuncinya. ASDP dalam Penguatan Jalur Transportasi Laut Nasional di ufuk timur bukan soal garis di peta. Tapi soal karung beras yang tidak lagi basah dan senyum masyarakat, sebab bisa melakukan jual beli dengan harga wajar karena stok ada.

Sebut saja di Bade, saat KMP Muyu sandar, warga padat di dermaga. Mereka bukan cuma menyambut kapal, melainkan jemput kepastian hidup, kalau logistik aman dan harga tidak naik.
Bagi Yuliana, dentuman pelan mesin itu yang dulu bikin cemas, sekarang jadi dengung paling aman. Dihari Perhubungan Nasional 17 September 2026, dari ufuk timur Merauke, suara itu menjadi penanda paling jujur bahwa nadi Papua Selatan tetap berdenyut dan semua selamat sampai tujuan. (Nuryani)










































