Metro Merauke – Tak ada yang pernah menyangka bahwa Mansyur (43) peserta segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) berubah ketika ia divonis menderita penyakit batu ginjal.
Warga asli Merauke ini harus menjalani pengobatan secara rutin kala itu, bahkan harus dirujuk hingga keluar kota menjalani prosedur medis yang tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras biaya yang tidak sedikit.
Namun, di tengah perjuangan beratnya, ada satu hal yang membuatnya terus bertahan, karena kartu JKN miliknya yang masih aktif.
“Kalau bukan karena JKN, saya tidak tahu harus bagaimana. Biaya pengobatan itu besar sekali, dan saya tidak punya penghasilan tetap. Tapi berkat JKN, saya bisa tetap berobat dan punya harapan hidup,” ujar Mansyur dengan mata berkaca-kaca, Rabu (16/04/2025).
Semua bermula sekitar beberapa tahun lalu, ketika Mansyur mulai merasakan nyeri di bagian pinggangnya.
Awalnya ia mengira hanya sakit biasa namun semakin lama makin sakit. Ia pun memeriksakan diri ke Puskesmas.
“Saya mulai merasa nyeri di pinggang, tapi saya pikir cuma pegal biasa karena kerja berat. Lama-lama makin sakit sampai tak bisa tidur. Saat itu saya sudah tidak kuat. Kalau tidak segera dibawa ke Puskesmas, saya tidak tau apa yang terjadi setelah itu,” ujar Mansyur.
Di sinilah titik balik hidup Mansyur bermula. Petugas Puskesmas memberi tahu bahwa ia tercatat sebagai peserta JKN melalui segmen PBI, di mana iurannya ditanggung pemerintah. Dengan kartu JKN, ia dirujuk ke Rumkital Merauke untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Waktu dokter bilang saya terindikasi batu ginjal, saya tidak tahu harus bagaimana. Yang terlintas di pikiran saya cuma dua apakah saya bisa sembuh dan apakah saya sanggup bayar biaya pengobatan,” ungkapnya.
Setelah menjalani pemeriksaan laboratorium dan USG, dokter memastikan adanya batu ginjal di saluran kemih yang cukup besar dan harus segera ditangani. Dokter pun menganjurkan untuk dilakukan tindakan segera.
Bahkan ia bercerita bahwa dirinya harus dirujuk ke RS Siloam di Makassar untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Seluruh biaya pengobatan mulai dari pemeriksaan, rawat inap, tindakan medis, hingga obat-obatan ditanggung sepenuhnya oleh JKN.
Mansyur pun mengaku sangat terharu dan bersyukur karena tidak perlu memikirkan biaya sedikit pun.
“Saya benar-benar merasa diselamatkan. Kalau harus bayar sendiri, mungkin saya tidak bisa lanjut pengobatan, saya mungkin sudah menyerah. Mana bisa saya cari belasan juta Rupiah,” tutur Mansyur.
Tak hanya dari sisi biaya, Mansyur juga merasakan dukungan emosional dan informasi yang ia dapat dari petugas BPJS Kesehatan. Ia mengaku selalu diberi penjelasan dengan sabar mengenai proses cuci darah, hak dan kewajiban sebagai peserta JKN, serta pentingnya menjaga kepesertaan tetap aktif.
“Petugas BPJS selalu bilang, jangan takut bertanya. Mereka bantu saya urus semuanya. Saya tidak merasa sendirian, itu yang bikin saya kuat,” katanya.
Kini, Mansyur menjalani hidup dengan lebih teratur. Ia lebih menjaga pola makan dan terus mengontrol aktifitas serta kondisi tubuhnya ke fasilitas kesehatan. Meski memiliki riwayat penyakit batu ginjal, ia tidak kehilangan semangat.
Dirinya juga berpesan kepada masyarakat untuk tidak menunda atau mengabaikan kepesertaan JKN. Banyak yang merasa tidak perlu JKN karena merasa sehat.
“Tapi kita tidak pernah tahu kapan kita sakit. Saya bersyukur sekali, waktu sakit, saya punya JKN yang aktif.”
Kisah Mansyur menjadi bukti bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional bukan sekadar program pemerintah biasa. Lebih dari itu, JKN adalah wujud nyata perlindungan sosial dan gotong royong antar warga negara. Dengan membayar iuran secara rutin, peserta ikut membantu sesama yang sedang membutuhkan layanan kesehatan.
Mansyur hanyalah satu dari jutaan warga Indonesia yang hidupnya berubah karena JKN. Di tengah keterbatasan, ia bisa tetap berobat, tetap berharap, dan tetap berjuang.
Ceritanya adalah gambaran nyata bahwa kesehatan adalah hak, dan JKN hadir untuk menjamin hak itu bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
“Saya masih ada di sini sampai hari ini salah satunya karena ada JKN. Terima kasih untuk semua yang telah bergotong royong,” pungkas Mansyur dengan senyum penuh harapan. (Nuryani)
















































