Ciptakan Nilai Tambah Ikan Gastor, IPB University dan PKK Salor Indah Kembangkan Abon Sehat di Merauke

Metro Merauke – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 IPB University bidang Perikanan Budidaya menggandeng Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Salor Indah untuk mengolah hasil perikanan lokal menjadi produk berdaya jual tinggi.

Langkah ini diambil untuk memanfaatkan melimpahnya pasokan ikan gabus toraja (gastor) dan lele di kawasan Salor, Kabupaten Merauke, Jumat (18/09/2026).

Bacaan Lainnya

​Ketersediaan ikan gastor yang melimpah di wilayah Salor selama ini belum sebanding dengan harga jual ikan segarnya yang relatif rendah. Melalui inovasi olahan abon, daya simpan komoditas perikanan ini dapat diperpanjang sekaligus meningkatkan nilai ekonomisnya di tingkat peternak dan nelayan lokal.

​Berbeda dari pembuatan abon pada umumnya, Tim TEP 15 IPB menerapkan teknik sangrai tanpa gorengan minyak berlebih. Selain itu, formulasi bumbu dibuat bebas monosodium glutamate (MSG) dengan mengandalkan kekayaan rempah alami untuk menghasilkan rasa yang gurih dan menyehatkan.

​Pelatihan ini disambut positif oleh kelompok PKK Salor Indah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat mandiri. Keterampilan baru ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pelatihan semata, melainkan berkembang menjadi unit usaha produktif berbasis potensi lokal.

​“Harapannya, pengolahan ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja. Produk abon gastor dan lele ini dapat dikembangkan oleh PKK Salor Indah menjadi produk usaha yang memiliki identitas lokal,” ujar Anggota Tim TEP 15 IPB University, Yanti Pitriani.

Dikatakan, ​abon gastor dan lele ini diproyeksikan menjadi oleh-oleh khas Salor Indah yang siap dipasarkan secara luas ke berbagai wilayah di Kabupaten Merauke.

​Selain menyasar pasar komersial, Tim TEP 15 IPB juga mulai menjajaki akses distribusi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Merauke.

Sinergi ini diharapkan tidak hanya menggerakkan roda ekonomi warga lokal, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat setempat. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *