Metro Merauke – Hidup di daerah terpencil selalu identik dengan keterbatasan. Tak ada akses untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, dan minimnya infrastruktur memadai.
Situasi itu akhirnya melahirkan anggapan bahwa sukses hanya bisa diraih oleh mereka yang ada di kota besar. Membuat anak dari pelosok negeri merasa mimpinya terlalu jauh untuk dicapai. Benarkah demikian?
Ini adalah kisah tentang ketiga anak dari ujung timur Indonesia, yang kini jauh dari tanah kelahirannya, demi berjuang menuntut ilmu hingga ke Cikarang, Provinsi Jawa Barat.
Keterbasan di kampung halaman, menjadi pelecut semangat mereka menggapai asa. Meraih mimpi kesuksesan.
Namanya Koleta Kambe. Lahir di Merauke, Papua Selatan pada 24 November 2025. Ia berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Namun sejak kecil memiliki mimpi besar. Ingin membuktikan, latar belakang bukanlah penentu masa depan.
Impian inilah yang membuat Koleta bertahan menggapai mimpinya. Ia tak pernah menyerah pada keadaan. Ketika kesempatan datang untuk melanjutkan pendidikan ke Cikarang, ia tidak menyia-nyiakannya.
Meski menyadari hidup di tanah rantau, dan jauh dari keluar sangat berat. Namun semua itu ia tepis demi menjaga impiannya.
Jalan menggapai cita itu tersingkap. Koleta bersama bersama sejumlah anak asli Merauke bertolak menuju Jakarta pada 2022. Tujuan mereka satu, melanjutkan pendidikan demi menggapai cita-cita.
Koleta Kambe yang kini tercatat sebagai siswi Kelas XII di SMK Binamitra Cikarang Timur menyadari betul, akan banyak rintangan yang menghambat untuk merealisasikan mimpi. Sebab, perjalanan menuju sukses tidak pernah mudah.
Namun Koleta yang memiliki hobi membaca buku itu ingin membuktikan, seorang anak kampung mampu bersaing dan berhasil ditengah segala keterbatasan.

Dia bercerita, bagaimana ia mesti menghadapi berbagai rintangan selama menuntut ilmu di negeri orang.
Hambatan pertama mulai muncul ketika dirinya dan beberapa anak lain tidak lagi dinaungi pihak yayasan. Untuk tetap bertahan hidup, mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal.
Mereka bahkan numpang tinggal di rumah warga asal Jayapura, Papua. Ada juga warga sekitar yang mengulurkan tangan memberikan bantuan.
Dalam situasi yang tak pasti, Koleta dan dua kawannya dari Merauke bertahan bersekolah di sana. Tujuh orang rekan mereka yang lain, menyerah dan memilih pulang ke daerah asal.
Koleta Kambe dan Maria Sance Gerin Jupyo yang lahir di Merauke 2 November 2008 serta Gabriel Yakumop Kombakay kelahiran 2014, memilih bertahan.
Pengalaman hidup di kampung dan keterbatasan ekonomi keluarga menengah ketiganya untuk bertahan dalam ‘badai’. Sikap tidak mudah menyerah pada keadaan dan menghargai setiap kesempatan menjadikan membentuk mental hidup mereka.
Ditengah segala keterbatasannya anak-anak yang masih belia itu tetap gigih bersekolah. Harapan terbesar selalu terbersit dari ketiganya.
Maria Sance Gerin Jupyo, siswa kelas XI di SMK Dharma Paramita, ia dan teman-temannya tetap datang ke sekolah, membawa semangat, dan menyimpan mimpi besar yang tertulis dalam laporan hasil belajar atau buku rapor di sekolah masing-masing, ketiganya meraih nilai yang baik.
Bahkan Gabriel Kombakay, siswa Kelas VI SDN Simpangan 03 yang memiliki hobi bermain bola itu menyabet peringkat di kelasnya.

Banyak rintangan untuk merealisasikan mimpi Koleta Kambe yang bercita-cita setelah menamatkan bangku SMA dan masuk Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPN).
Ayahnya hanya seorang petani dengan penghasilan tidak menentu. Mereka kerap kesulitan untuk mengirim uang bulanan maupun sekadar membeli kebutuhan sekolah.
“Saya belum mau pulang sebelum berhasil. Kasihan orang tua, saya tahu benar mereka (orang tua) sudah menaruh harapan besar agar anaknya ini bisa berhasil,” ucap Koleta Kambe didampingi Maria Sance bersama Gabriel kepada Metro Merauke belum lama ini.
Dibalik kisah Koleta, Maria, dan Gabriel, terselip semangat pemuda dan pemudi asal Kabupaten Merauke, Elsye Titihalawa dan Cornelis Renwarin.
Mengetahui realita ketiga anak Merauke ini, Cornelis Renwarin sebagai pemerhati pendidikan tak dapat berdiam diri.
Ia tahu bahwa ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang membuktikan bahwa anak kampung bisa memiliki masa depan meskipun di tengah keterbatasan.
Namun dibalik semua itu, ada semangat gotong royong dan kepedulian yang terus menyala demi masa depan anak bangsa.
Kornelis hadir bukan hanya sekadar memberikan motivasi agar semangat mereka mengenyam pendidikan tidak pudar.
Melainkan dengan panggilan hati, pria yang juga bekerja di salah satu LSM di Jakarta, rela menyisihkan waktu, tenaga hingga sebagian rejekinya untuk mendukung kehidupan mereka di perantauan kawasan Cikarang.
Dengan berusaha mewujudkan impian para anak-anak kampung yang ingin merasakan manisnya pendidikan.
Pesan utamanya adalah, bahwa semua manusia terlepas dari keadaanya apapun, latarbelakang apapun berhak untuk meraih mimpinya. Kisah inspiratif ini sekaligus menjadi motivasi tersendiri bagi generasi muda dapat gigih dalam menggapai Asanya. (Nuryani)
















































