Metro Merauke – Produk kerajinan tangan khas Kabupaten Asmat, Papua Selatan, sukses menarik perhatian pengunjung dan peserta lainnya dalam ajang pameran Xponesia yang digelar di Lampung. Kehadiran kerajinan ikonik ini menjadi bukti nyata potensi besar UMKM dari ujung timur Indonesia di kancah nasional.
Rasa bangga dan bahagia terpancar dari perwakilan pengrajin asal Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Alfons Kawem, yang mendapatkan kesempatan emas untuk memamerkan produk kerajinan tangan mereka di pameran berskala nasional, yang digelar dalam rangka Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) XVIII di Lampung.
Alfons Kawem mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya yang mendalam karena produk-produk lokal buatan anak asli Papua Selatan bisa bersanding di momen besar yang dihadiri Presiden RI, Prabowo Subianto dan para pengusaha dari seluruh penjuru tanah air
Ditemui di lokasi pameran pada hari pertama kegiatan. Dengan penuh rasa bangga, pria kelahiran Pantai Kasuari, Kabupaten Asmat, tahun 1980 silam, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan untuk melibatkan para pelaku UMKM, khususnya anak-anak asli Papua Selatan.
”Saya sendiri dari Asmat merasa terdorong dan bangga bisa diikutsertakan dalam momen ini, sekaligus membawa hasil pahatan, ukiran, dan anyaman dari mama-mama dan orang tua yang ada di Kabupaten Asmat,” ujar Alfons disela-sela kegiatan, Rabu (10/06/2026).
Ia menceritakan bahwa persiapan untuk mengikuti pameran ini terbilang sangat singkat. Kendati demikian, produk-produk yang dibawanya mampu disiapkan dengan maksimal.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kerajinan yang ditampilkan dalam Xponesia Munas XVIII BPP HIPMI di Lampung, memiliki nilai budaya yang sangat tinggi karena merepresentasikan keberagaman etnis di Asmat. Kabupaten Asmat sendiri terbagi atas tujuh etnis atau suku utama (seven far).
Produk yang dipamerkan meliputi patung-patung ukiran kayu khas hasil karya masyarakat Asmat Pantai (suku Safan), serta berbagai macam Noken (tas tradisional Papua) yang dianyam langsung oleh mama-mama dari suku Kaigar di daerah hulu/atas.
Dia menyebut, meski pameran baru memasuki hari pertama, respon masyarakat dan peserta dari stan lain di Lampung tergolong sangat luar biasa. Produk ukiran Asmat yang biasa dijadikan hiasan dinding estetik langsung habis terjual (sold out).
Kerajinan khas ini dipatok dengan harga yang bervariasi sesuai tingkat kerumitan dan ukurannya, mulai dari Rp1.000.000 untuk ukuran kecil hingga Rp5.000.000 untuk karya berukuran besar.
”Antusiasme penonton dari stan-stan di Lampung sangat bagus. Papua Selatan termasuk yang ramai dikunjungi. Puji Tuhan, produk kita ada yang langsung dibeli dan untuk ukiran bahkan sudah habis hari ini,” tambahnya.
Melihat tingginya minat masyarakat di luar Papua terhadap kebudayaan asli di Bumi Cendrawasih, Alfons Kawem berharap pemerintah daerah, baik tingkat Kabupaten Asmat, Merauke, Boven Digoel, Mappi, hingga tingkat Provinsi Papua Selatan, dapat lebih sering menyelenggarakan atau memfasilitasi acara-acara serupa dalam skala yang lebih besar.
”Harapan ke depannya, pemerintah bisa membuat event-event seperti ini yang lebih besar lagi, supaya produk-produk kerajinan kita bisa semakin dikenal dan berhasil, baik di dalam negeri maupun di dunia internasional,” pungkasnya. (Nuryani)
















































