Anggota DPR RI Resmikan Bed Drayer Petani Milenial Merauke

Peresmian mesin pengering padi Petani Milenial Merauke ditandai pengguntingan pita

Metro Merauke – Rasa bangga diungkapkan Anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman L Hamzah saat meresmikan mesin pengering padi (bed drayer di SP3, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua, Minggu (27/O2/2O22).

Dengan dihadirkannya alat pengering padi atau bed drayer yang dirancang berbahan bakar sekam dan kayu itu, dinilai sebagai terobosan besar petani bersama TNI di wilayah itu dalam menjawab permasalahan petani di Merauke mengenai masalah kualitas beras akibat sistem pengering padi dengan manual atau dijemur di bawah sinar matahari.

Bacaan Lainnya

“Yang dihadirkan persatuan petani milenial di Merauke (alat pengering padi, terus terang saya bangga. Pergerakan dari TNI bersama petani ini sebuah terobosan yang sangat membantu daerah,” ucapnya pada saat peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita.

Sulaeman L Hamzah menyebut, kawasan Merauke telah dicanangkan pemerintah pusat sebagai sentra lumbung pangan Indonesia timur. Sehingga, katanya, lewat berbagai terobosan alsintan pertanian, ke depannya diharapkan tidak ada lagi kekhawatiran mengenai kualitas beras yang rusak akibat sistem penjemuran tidak maksimal.

Dirinya juga mengucapkan selamat atas karya besar persatuan petani milenial, sekaligus berharap, dengan adanya bed drayer yang baru diresmikan tersebut, dapat meningkatkan produktivitas para petani menuju swasembada pangan Kabupaten Merauke.

“Benar-benar ini wujud kesuguhan hati dengan terobosan mesin pengering. Saya sangat membuka diri untuk kita bersama-sama bersinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak untuk mamajukan sektor petanian di Merauke, tujuannya agar masyarakat sejahtera,” tuturnya.

Sementara itu, Pembina Petani Milenial Merauke, Serka Adrian Simanullang mengatakan, sedikitnya sudah ada 2O unit mesin pengering padi dari Petani Milenial dan telah digunakan di sejumlah distrik, seperti Distrik Kurik, Semangga, dan Tanah Miring yang merupakan kawasan sentra pertanian.

Lebih jauh Adrian Simanullang, yang juga bertugas di Korem 174/Anim Ti Waninggap menjelaskan, adanya mesin pengering ini diklaim sangat efektif membantu dalam proses pengeringan padi.

Diuraikan, bila padi dijemur dengan sistem manual, membutuhkan waktu hingga 3 minggu. Namun, lewat pengering padi karya petani milenial ini, hanya memakan waktu 12 jam dimusim panas, sedangkan dimusim hujan proses pengeringan butuh waktu 24 jam.

Dikatakan Simanullang, bahwasanya TNI juga hadir untuk mengatasi kesulitan warga, terutama petani yang selama ini terkendala saat penjemuran padi secara manual dan butuh waktu lama, tentu ini mempengaruhi kualitas beras.

“Inovasi ini kami adopsi dan belajar dari Palembang hingga Vietnam, kita pelajari dan sempat berkali-kali gagal. Kita terus belajar serta gandeng mekanik dari Jawa, hingga kini hasilnya sudah dimanfaatkan dengan baik,” jelasnya. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *