Metro Merauke – Dingin Subuh masih menyelimuti udara di ufuk timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Merauke, ibu kota Provinsi Papua Selatan pagi itu. Namun, geliat kehidupan di pasar semi mall, Wamanggu, sudah mulai berdetak kencang.
Suara motor tua yang dikendarai, Kasimon (52), Warga Kampung Muram Sari, Distrik Semangga, Merauke, samar terdengar mulai masuk ke areal pasar menuju parkiran yang juga sudah berjajar pedagang gerobak sayur lainnya. Aroma sayuran segar yang baru tiba bercampur menjadi satu, menandai dimulainya rutinitas harian.
Kasimon yang akrab di sapa pakde Simon oleh kalangan pedagang sayur, kemudian mulai sibuk menata gerobak sayurnya. Ia telah tiba di pasar sejak Adzan Subuh berkumandang, berpacu dengan waktu untuk segera membeli berbagai barang yang didominasi kebutuhan dapur di Pasar Wamanggu, kemudian dijual kembali dengan cara berkeliling sampai masuk kampung.
Bagi Simon, seorang ayah dari tiga anak, pasar bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga medan harapan. Pagi itu, harapannya dipasang tinggi. Sebab, beberapa hari terakhir, suasana pasar terasa lesu. Uang yang berputar melambat, dan pembeli tampak lebih berhemat.
“Pakde (Simon), sa su bawa (saya sudah membawa) sayur genemo (daun melinjo), genjer, dan tomat pesanan ini,” ucap Yosefa, pedagang sayur di pasar sembari menunjukan sayur yang dibopong di tangannya.
“Tomat harganya tidak kaya kemarin, sekarang sudah Rp40.000/kg, su bukan Rp25.000 lagi, susah carinya, su tau to (sudah tahu kan) ada kapal putih masuk,” sambung mama Yosefa.
Simon yang tengah mengencangkan tali gerobaknya telah mengenali suara itu dan refleks mengarahkan pandangannya meresponi ucapan Yosefa.
“Mamayo (astaga), ada harus (pantasan) su mahal lagi (tomat),” timpal Simon, sembari memasukan tangan kanannya di dalam tas pinggangnya dan mengeluarkan lembaran uang kemudian membayar barang pesanannya yang di bawa mama Yosefa dengan wajah tersenyum.
Diketahui, selain pasokan tomat dari petani berkurang akibat cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Kedatangan kapal putih (sebutan warga untuk kapal besar-red) pun ikut mempengaruhi harga sejumlah komoditas barang di pasaran Merauke, salah satunya untuk dilalulintaskan antar pulau menggunakan transportasi laut.
Matahari perlahan mulai naik, aktivitas pasar kian ramai, tawar-menawar harga mulai terdengar nyaring.

Hidup adalah serangkaian babak yang menuntut adaptasi. Bagi Kasimon, babak baru itu dimulai pada tahun 2012. Ia ingat betul, saat pria kelahiran, Merauke 14 Juli 1973 silam harus meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan toko setelah lima tahun dijalaninya, lantaran tingginya biaya hidup di kota hingga memaksa Simon harus memboyong keluarganya tinggal bersama orang tua di Kampung Muram Sari.
Di tengah ketidakpastian itu, ia menerima haknya, Jaminan Hari Tua (JHT) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
”Tahun 2012 itu berat. Saya berhenti kerja dari toko, bingung mau usaha apa. Alhamdulillah, ada dana dari Jamsostek (telah bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada 1 Januari 2014). Sa cairkan sendiri, untuk klaimnya tidak susah, ada petugas juga yang bantu. waktu itu Sa dapat (terima) sekitar Rp3.000.000 an,” kenang Simon, sambil merapikan dagangannya di gerobak sederhana, Jumat (28/11/2025).
Uang yang didapatnya dari program Jaminan Hari Tua itu memang tidak besar. Namun, bagi Simon, dana tersebut adalah modal penyelamat keluarga kecilnya. Tanpa ragu, ia menggunakannya untuk membeli gerobak sekaligus modal awal berjualan sayur. Tak pernah disangka hal tersebut mengubah nasibnya dari pekerja toko menjadi pedagang sayur keliling.
Perjalanan hidup Simon tak serta merta mudah. Berkeliling dari rumah ke rumah di desa atau kampung dengan penghasilan yang kerap pas-pasan telah menjadi rutinitasnya selama lebih dari satu dekade. Namun, di balik kerja keras itu, tersimpan kisah sukses seorang ayah.
Dengan ketekunan, Simon mampu membiayai dan menyelesaikan pendidikan ketiga anaknya. Eka Laksana Putra lulus SMK Negeri 3 Merauke tahun 2019, Dwi Putri lulus SMK Negeri 2 Merauke tahun 2022, dan Marsepa Majid lulus SMK Negeri 3 Merauke tahun 2025.
Kini, ia bahkan telah dikaruniai seorang cucu (3 tahun) tak membuatnya pangku tangan, melainkan menambah semangatnya untuk terus bekerja menggeluti profesinya itu.
”Sa sendiri tidak sampai tamat SMP, tapi saya bertekad anak-anak harus lebih baik. Semua rezeki dari jualan sayur ini sa putar untuk sekolah mereka sampai lulus SMK,” ucap Simon dengan bangga.
Ia menegaskan, keberhasilannya mementaskan ke tiga anaknya dari sekolah kejuruan di Merauke berawal dari dana JHT yang dicairkan setelah berhenti kerja.
“Jujur, saya bersyukur dan berterimakasih. BPJS Ketenagakerjaan itu yang menyelamatkan keluarga saya di awal masa sulit. Dana tersebut bukan cuma modal usaha, tapi modal untuk kembali berdiri dan punya harapan hingga kini,” tuturnya.
Kisah Kasimon menjadi salah satu bukti nyata manfaat dari perlindungan sosial. Dalam konsep bekerja yang berhenti atau diberhentikan, BPJS Ketenagakerjaan memiliki dua program utama sebagai jaring pengaman finansial.
Adalah, Jaminan Hari Tua (JHT). Program tabungan hari tua yang dananya dapat dicairkan meskipun peserta masih berada di usia produktif. Peserta yang mengudurkan diri (resign) atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Pekerjaan yang mengalami PHK juga dilindungi oleh program baru yang memberikan bantuan uang tunai bulanan, akses ke informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja gratis selama maksimal 6 bulan.
Disamping itu, ada juga program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Pensiun (JP).

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Merauke, Lisawanti Lisuallo, melalui Penata Pelayanan, Azhari Syawaludin, menyebut sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Oktober 2025, pihaknya telah membayarkan Rp64. 735.492.053 dengan total penerima manfaat 3.590 orang di Provinsi Papua Selatan.
“Khusus untuk JHT, BPJS Ketenagakerjaan telah mencairkan dana Rp60.006.668.980 untuk 3.353 pekerja yang mayoritas menggunakannya sebagai modal usaha atau biaya transisi hidup, seperti yang dilakukan Bapak Sukardi,” kata Azhari kepada Metro Merauke, Jumat (28/11/2025).
Dijelaskan, untuk kepesertaan tenaga kerja aktif yang dilindungi program BPJS Ketenagakerjaan di Provinsi Papua, tercatat hingga 31 Oktober 2025 sebanyak 29.040 orang, terdiri dari 23.248 pekerja penerima upah (Formal) dan 5.792 pekerja bukan penerima upah (Informal).
Diakuinya, terjadi penurunan pertumbuhan kepesertaan pada sektor pekerja formal sebesar -27.785%, Oktober 2025 peserta aktif 23.248 dari Oktober 2024 peserta aktif 32.193 dan dari sektor pekerja informal terdapat penurunan pula sebesar -28.377%, Oktober 2025 peserta aktif 5.792 dari Oktober 2024 peserta aktif 8.353.
Menanggapi harapan masyarakat agar sosialisasi program dilakukan secara lebih masif, pihak BPJS Ketenagakerjaan menyatakan komitmen kuat mereka.
Lebih jauh Azhari Syawaludin menjelaskan, BPJS Ketenagakerjaan terus berupaya menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik pekerja formal maupun informal, agar memahami pentingnya perlindungan sosial.
“Kami sangat mengapresiasi keberhasilan Kasimon, warga Kampung Muram Sari. Tentu apa yang dialaminya memotivasi kami untuk semakin gencar melakukan sosialisasi, terutama mengenai manfaat JHT dan JKP serta bagaimana prosedur klaimnya yang sudah kami permudah melalui kanal digital seperti Jamsostek Mobile (JMO) dan Layanan Klaim Tanpa Kontak Fisik (Lapak Asik),” ujarnya.
Ia menambahkan, sosialisasi akan diperluas tidak hanya di perkotaan tetapi juga di daerah-daerah melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas UMKM, dan kampung.
Tujuannya adalah memastikan setiap pekerja, termasuk pedagang mandiri mengetahui bahwa mereka memiliki hak dan akses terhadap jaring pengaman sosial. Dengan dukungan dan komitmen sosialisasi yang kuat dari BPJS Ketenagakerjaan, diharapkan tidak ada lagi pekerja yang kebingungan saat harus menghadapi masa sulit atau kehilangan pekerjaan.
“Kami ingin semua pekerja, termasuk di ujung timur Indonesia terlindungi. Memahami manfaat JHT, JKK, JKM, JP, dan JKP adalah hak setiap pekerja. BPJS Ketenagakerjaan berkomitmen untuk mewujudkan pemahaman itu secara menyeluruh,” tandanya. (Nuryani)















































