Metro Merauke– Akses layanan kesehatan yang cepat dan tepat menjadi faktor penting dalam mencegah kondisi medis ringan berkembang menjadi lebih serius, terlebih pada anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih dalam tahap pertumbuhan. Respons orang tua dalam mengenali gejala awal serta memanfaatkan fasilitas kesehatan sesuai prosedur menjadi kunci agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Situasi inilah yang dialami Kahiyang Dwi Yanka (6), putri dari Eka Khusnul Khotimah, warga Distrik Merauke. Pembengkakan yang disertai kemerahan pada bagian kaki membuat Kahiyang harus menghentikan aktivitas bermainnya.
Awalnya, keluhan yang dirasakan hanya berupa nyeri ringan. Namun dalam dua hari, kondisi tersebut berkembang cepat. Area yang terinfeksi tampak memerah, terasa hangat saat disentuh, dan membuatnya kesulitan berjalan.
Melihat kondisi anaknya yang kian memburuk, Eka tidak menunda untuk membawa Kahiyang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, tenaga medis menduga adanya infeksi kulit yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kahiyang kemudian dirujuk ke RS Jenderal TNI LB Moerdani guna mendapatkan perawatan intensif. Ini menjadi pengalaman pertama bagi Kahiyang menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut.
Di rumah sakit, dokter memastikan Kahiyang mengalami selulitis, yakni infeksi bakteri pada lapisan kulit dan jaringan lunak di bawahnya. Penyakit ini umumnya ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, nyeri, serta dapat disertai demam. Pada anak-anak, infeksi dapat berkembang relatif cepat apabila tidak segera ditangani.
“Awalnya kami kira hanya bengkak biasa karena mungkin terbentur saat bermain. Tapi lama-lama makin merah dan dia mengeluh sakit sekali,” ujar Eka Khusnul Khotimah saat ditemui di sela proses perawatan anaknya.
Selulitis kerap terjadi akibat bakteri yang masuk melalui celah pada kulit, seperti luka gores, lecet, atau gigitan serangga. Luka kecil yang tampak sepele bisa menjadi pintu masuk infeksi apabila tidak dibersihkan dengan baik. Dalam kasus Kahiyang, infeksi terjadi pada bagian kaki, meski tidak diketahui secara pasti sisi sebelah mana yang pertama kali terdampak.
Setibanya di rumah sakit, Kahiyang segera mendapatkan terapi antibiotik sesuai indikasi medis serta observasi ketat untuk memantau perkembangan infeksi. Tim medis memastikan kondisi umum pasien tetap stabil selama masa perawatan.
Sebagai orang tua, Eka mengaku sempat diliputi rasa khawatir. Namun ia merasa lega karena seluruh proses pelayanan berjalan lancar melalui kepesertaan Program JKN.
“Selama pakai BPJS syukurnya tidak pernah ada kendala, mba. Beberapa kali saya bawa anak saya ke puskesmas, apalagi kita tinggal di desa itu tidak ada kendala. Kami sangat terbantu dan tidak pernah kami diminta bayar,” ungkapnya.
Menurut Eka, keberadaan jaminan kesehatan memberikan rasa aman bagi keluarganya. Dengan adanya jaminan pembiayaan, ia tidak perlu mempertimbangkan biaya ketika harus membawa anaknya ke rumah sakit.
Dokter yang menangani Kahiyang menyampaikan bahwa respons terhadap pengobatan cukup baik. Setelah beberapa hari menjalani perawatan, pembengkakan berangsur berkurang dan kondisi Kahiyang menunjukkan perbaikan signifikan. Meski demikian, kontrol lanjutan tetap dijadwalkan untuk memastikan infeksi benar-benar sembuh.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa infeksi kulit seperti selulitis tidak boleh dianggap remeh. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi ke jaringan yang lebih dalam atau bahkan ke aliran darah.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani, menegaskan bahwa Program JKN terus berupaya memastikan peserta memperoleh akses layanan kesehatan yang optimal sesuai prosedur yang berlaku.
“Kami berkomitmen memberikan perlindungan jaminan kesehatan bagi seluruh peserta JKN. Selama alur layanan dijalani sesuai ketentuan, mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rujukan ke rumah sakit, hak peserta akan dijamin,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan kesehatan, khususnya pada anak-anak. Deteksi dan penanganan lebih awal dinilai mampu mencegah risiko komplikasi yang lebih serius.
Pengalaman Kahiyang menjadi gambaran bagaimana sistem rujukan berjenjang berjalan efektif di lapangan. Dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan, pelayanan diterima tanpa hambatan biaya tambahan.
Kini, setelah kondisinya membaik dan diperbolehkan menjalani rawat jalan, Eka mengaku akan lebih waspada terhadap setiap luka atau keluhan kesehatan yang dialami anaknya. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang.
Bagi keluarga kecil ini, kepastian akses layanan kesehatan bukan sekadar fasilitas, melainkan bentuk perlindungan nyata. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan jarak, Program JKN memberikan rasa tenang bahwa pelayanan kesehatan tetap dapat diakses ketika dibutuhkan. (Nuryani)
















































