Metro Merauke – Penyakit dapat datang secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat, termasuk kelainan kulit dan mukosa yang bersifat akut serta berpotensi mengancam jiwa.
Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera dan pengawasan intensif di fasilitas kesehatan rujukan. Hal tersebut dialami Hidayati (44), seorang warga Merauke yang untuk pertama kalinya harus menjalani perawatan inap di Rumkital Merauke akibat kelainan kulit akut yang dideritanya.
Hidayati menceritakan, awalnya ia hanya merasakan gejala berupa ruam kemerahan di beberapa bagian tubuh. Namun dalam waktu singkat, ruam tersebut menyebar luas dan disertai rasa perih yang hebat.
Tidak hanya pada kulit, luka juga muncul di area mukosa seperti bagian dalam mulut, sehingga membuatnya kesulitan makan dan berbicara. Kondisinya semakin memburuk disertai demam tinggi dan tubuh terasa lemas.
“Awalnya saya kira hanya alergi biasa, tapi ternyata semakin hari semakin parah. Kulit terasa perih sekali dan muncul luka di beberapa bagian. Setelah diperiksa, dokter menyampaikan kalau ini termasuk kondisi yang serius dan harus dirawat,” ungkap Hidayati saat ditemui di ruang perawatan, Rabu (11/02/2026).
Menurut penjelasan medis, kelainan kulit dan mukosa yang bersifat akut memang tidak dapat dianggap remeh. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat berkembang cepat dan memicu komplikasi pada organ lain apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, Hidayati disarankan untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit agar kondisinya dapat dipantau secara berkala.
Pengalaman ini menjadi momen pertama bagi Hidayati menjalani rawat inap di rumah sakit. Meski sempat merasa cemas dan takut, ia mengaku bersyukur karena proses pelayanan yang diterimanya berjalan lancar.
“Sejauh ini saya pakai BPJS Kesehatan tidak pernah ada kendala sih mba, dan untuk pertama kali dirawat di RS juga pelayanannya baik. Dari awal masuk sampai sekarang dirawat, semuanya dibantu dan dijelaskan dengan baik,” tuturnya.
Hidayati menambahkan bahwa proses administrasi tidak berbelit. Ia hanya memastikan kepesertaannya aktif dan mengikuti alur rujukan sesuai ketentuan. Selama menjalani perawatan, ia tidak dipungut biaya tambahan di luar prosedur yang berlaku.
Di Rumah Sakit Angkatan Laut Merauke, Hidayati mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. Dokter dan perawat secara rutin memantau kondisi vitalnya, memberikan terapi obat sesuai indikasi medis, serta memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi. Mengingat luka juga terjadi di area mukosa, pengawasan ekstra dilakukan untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan.
“Perawatnya sering datang cek kondisi saya. Kalau ada yang saya tidak mengerti, mereka jelaskan dengan sabar. Saya jadi lebih tenang,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani, menyampaikan bahwa Program JKN hadir untuk memastikan seluruh peserta memperoleh perlindungan kesehatan yang komprehensif, termasuk untuk kasus-kasus penyakit yang bersifat akut dan mengancam jiwa.
“Program JKN menjamin pelayanan kesehatan sesuai dengan indikasi medis dan prosedur yang berlaku. Dalam kondisi gawat darurat maupun penyakit akut yang memerlukan perawatan intensif, peserta tetap berhak mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama tanpa perlu khawatir terhadap biaya, selama kepesertaannya aktif. Kami mengimbau masyarakat untuk memastikan status kepesertaan JKN selalu aktif dan mengikuti alur pelayanan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, prosesnya dapat berjalan lancar seperti yang dirasakan Ibu Hidayati,” tambahnya.
Kepala Cabang juga menekankan pentingnya deteksi dini dan tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan kesehatan yang tidak biasa. Penanganan cepat dan tepat akan memperbesar peluang kesembuhan serta mencegah komplikasi yang lebih berat.
Kini, Hidayati berharap kondisinya segera pulih sepenuhnya agar dapat kembali beraktivitas bersama keluarga. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan ketika dibutuhkan.
“Yang penting jangan tunggu parah baru periksa. Pastikan juga kepesertaan JKN aktif, supaya kalau terjadi apa-apa kita sudah siap,” tutupnya.
Kisah Hidayati menjadi gambaran nyata bahwa penyakit berat dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal waktu. Namun dengan akses layanan kesehatan yang memadai serta kepesertaan JKN yang aktif, masyarakat dapat memperoleh penanganan cepat dan tepat.
Kehadiran Program JKN pun terus menjadi bentuk komitmen negara dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. (Nuryani)
















































