Metro Merauke – Harapan besar Indonesia untuk mencapai swasembada pangan nasional kini bertumpu di ufuk timur, tepatnya di tanah Animha, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Di balik program besar tersebut, ada sosok petani asli Papua yang kini bisa bernapas lega.
Matahari tepat berada di atas kepala saat Muhammad Buang Slamet Basik-Basik, seorang pria kelahiran Kampung Wendu, Distrik Semangga, Merauke, tahun 1982 silam, tengah melangkah di pematang sawah di Kampung Muram Sari, menunggu giliran Hand traktor (traktor tangan) untuk mengolah sawahnya, Rabu (31/12/2025).
Bagi Buang Basik-Basik, sawah ini bukan sekadar hamparan tanah berlumpur. Ini adalah sebuah monumen perjuangan. Puluhan tahun lalu, ayahnya berdiri di tanah yang sama, mencoba meyakinkan warga sekitar bahwa masa depan orang Papua bisa lahir dari cangkul dan benih, bukan hanya dari hasil hutan.
Kala itu, kenang Buang, kendati sang ayah dengan bekal ilmu pertaniannya yang diperoleh di Pulau Jawa pun kerap dipandang sebelah mata oleh warga. Tradisi meramu dan berburu yang mengakar kuat, membuat profesi petani dianggap asing bagi masyarakat asli Papua.
Namun, dengan peluh yang bercucuran, ayah Buang membuktikan, bahwa tanah Merauke adalah “Tanah Terjanji” yang siap memberi makan siapa saja yang mau mengolahnya.
Kegigihan sang ayah itulah yang kemudian menyentuh hati Buang. Ia tidak ingin melihat warisan semangat itu padam.
Anak pertama dari delapan bersaudara ini memutuskan untuk sepenuhnya terjun ke sawah membantu orang tua, menjadikan bertani sebagai sandaran hidup utama untuk menghidupi anak dan istrinya.

Namun, kata Buang, menjadi petani di Papua tidaklah semudah membalik telapak tangan. Dia menyadari betul bahwa semangat saja tidak cukup. Ada tantangan besar yang seringkali membuatnya nyaris putus asa, terutama saat berhadapan dengan urusan logistik pertanian yang rumit.
Selama bertahun-tahun, Buang dan petani lainnya di Merauke terjebak dalam labirin birokrasi pupuk. Para petani berkali-kali harus “berteriak” karena pupuk yang menjadi urat nadi tanaman padinya sangat sulit didapatkan.
“Dulu, sa (saya) rasa lebih lelah mengurus administrasi dari pada mencangkul di sawah,” kenang Buang dengan senyum getir.
Diungkapkan, persoalan Kartu Tani yang syaratnya dirasa rumit menjadi tembok penghalang bagi petani lokal yang ingin produktif, namun terbatas secara akses informasi.
Bukan hanya soal administrasi, masalah kuota yang terbatas seringkali membuat Buang harus pulang dengan tangan hampa dari kios pengecer penyedia pupuk subsidi di Kampung Muram Sari. Ketidakpastian itu berdampak langsung pada dapur rumahnya.
Menurutnya, jika pupuk terlambat datang, pertumbuhan padi terganggu. Tentu, harapan untuk menyekolahkan ketiga anaknya pun turut terancam.
Namun, mendung gelap itu perlahan tersingkap. Dalam setahun terakhir, Buang dan petani di kampung itu mulai merasakan betul sebuah perubahan besar yang belum pernah dialami sebelumnya.
“Alhamdulillah, sekarang pupuk tra (tidak) pernah kosong, sampai melimpah,” ucapnya.
Pemerintah melalui skema distribusi yang baru nampaknya mulai mendengar rintihan para petani di ujung timur Indonesia ini. Prosedur yang dulunya berbelit-belit, kini dipangkas menjadi lebih sederhana dan manusiawi bagi petani lokal. Termasuk adanya sistem digital Aplikasi i-Pubers, mempermudah penebusan pupuk subsidi sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabel penyalurannya.

Pengecer pupuk bersubsidi di Kampung Muram Sari, Aris Muharyono, mengakui transformasi ini. Kini, pemandangan antrean panjang yang penuh amarah sudah tidak terlihat lagi.
“Benar, kita sendiri bisa merasakan, kalau dulu lebih susah mendapatkan pupuk, jumlahnya sedikit. Sekarang stok melimpah, harga terjangkau, syaratnya dipermudah, dan yang paling penting petani terbantu dengan turunnya harga pupuk subsidi 20 persen,” tutur Aris Muharyono kepada Metro Merauke, Rabu (31/12/2025).
Dikatakan, pihaknya mendapat alokasi pupuk bersubsidi 350 ton dan disalurkan untuk setiap petani anggota kelompok tani yang terdaftar dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
Aris menyebut, dengan PT Pupuk Indonesia menerapkan penurunaan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sesuai arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, harga pupuk Urea kini seharga Rp180.000/kilogram, sedangkan NPK Rp.184.000/kilogram. Petani jadi sangat terbantu, tidak lagi khawatir kesulitan pupuk yang diketahui menjadi bagian penting dalam pertanian.
“Penyaluran pupuk sekarang lancar, di Kampung Muram Sari kita melayani pupuk bersubsidi untuk 5 kelompok tani, dengan kuota 350 ton, terserap hanya 175 ton. Yang jelas dengan perubahan menggunakan KTP menjadi jauh lebih mudah, langsung dilayani sesuai RDKK alokasi petani,” terangnya.
Kemudahan akses pupuk ini ibarat nafas baru. Namun, transformasi pertanian bagi Orang Asli Papua (OAP) tidak berhenti di situ.
Dukungan politik dan moril pun mengalir deras dari Senayan, salah satunya melalui sosok Edoardus Kaize, Anggota Komisi IV DPR RI asal Papua Selatan. Lewat jalur aspirasi, sejumlah alat pertanian modern diantar langsung ke tangan petani OAP dalam mendukung swasembada di Merauke.
Edoardus Kaize, yang dikenal vokal menyuarakan hak-hak masyarakat adat, sangat mendukung langkah anak-anak Papua seperti Buang Basik-Basik yang berani turun ke sawah. Ia menegaskan bahwa kemandirian pangan di Papua hanya bisa tercapai jika masyarakat lokal diberdayakan secara maksimal.
“Torang (kita) harus memastikan orang asli Papua tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri to. Kemajuan pertanian di Merauke adalah pintu masuk menuju kesejahteraan,” ujar Edoardus Kaize.

Baginya, modernisasi adalah kunci agar petani Papua bisa bekerja lebih efisien dan tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.
Kehadiran alat mesin pertanian (alsintan) ini menjadi pelengkap sempurna serta kemudahan pupuk subsidi yang sudah dirasakan Buang Basik-Basik. Dengan alat modern, tenaga fisik yang dulu terkuras kini bisa dialihkan untuk memperluas garapan dan meningkatkan kualitas produksi pertanian.
Kombinasi antara kemudahan pupuk subsidi dan dukungan alsintan modern ini menjadi pondasi kuat berlangsungnya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sedang digenjot di Merauke. Buang merasa, kini pemerintah benar-benar hadir secara utuh dan merangkul OAP untuk maju.
Kini, setiap kali Buang menebar pupuk di sawahnya, ia meyakini sedang merawat martabat keluarganya. Dia membuktikan bahwa putra asli Papua mampu menjadi tuan di tanah sendiri melalui jalur pertanian.
Perjalanan Muhammad Buang Slamet Basik-Basik adalah potret kecil dari program besar Indonesia. Di tangannya, cangkul dan traktor bukan hanya alat kerja, melainkan simbol kedaulatan masa depan Bumi Cenderawasih.
Kesuksesan swasembada pangan bukan lagi sekadar angka statistik di atas kertas. Di Merauke, ia adalah nyata, terlihat dari senyum syukur Buang Basik-Basik yang merasa dimudahkan jalannya untuk mencari nafkah secara terhormat di tanah leluhurnya. (Nuryani)















































