Metro Merauke – Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat menyatakan bahwa komoditas ikan cakalang yang harganya kian meningkat di pasaran memicu naiknya angka inflasi di provinsi tersebut selama bulan Mei 2022.
“Komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Papua Barat yaitu ikan cakalang di atas satu persen. Kalau inflasi sudah di atas satu persen berarti komoditas tersebut sangat mahal. Kemungkinan stoknya kosong dan permintaan tinggi,” kata Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia di Manokwari, Kamis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, Kamis, tingkat inflasi di Papua Barat selama periode Mei yaitu 0,81 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 110,16.
Adapun tingkat inflasi di Indonesia selama bulan Mei berada pada angka 0,40 persen. Dari 87 kota di Indonesia yang mengalami inflasi pada bulan Mei, Manokwari tercatat mengalami inflasi sebesar 1,54 persen dan Sorong mengalami inflasi sebesar 0,61 persen.
Ia mengemukakan bahwa mahalnya harga ikan cakalang di pasaran lantaran stok yang menipis bahkan sampai kosong cukup disayangkan mengingat Papua Barat dikenal sebagai daerah bahari dan sebagai produsen ikan, terutama ikan cakalang.
Agar tingkat inflasi di wilayah itu bisa ditekan, BPS mengharapkan peran serta pemerintah setempat untuk menjaga ketahanan stok pangan. Pasalnya, jika inflasi terus meningkat maka akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Salah satu solusi untuk mengatasi kelangkaan stok ikan di pasaran sehingga dapat memicu gejolak harga, Maritje menyarankan pemda setempat membangun tempat pembekuan ikan (cold storage) dalam kapasitas besar.
“Selain karena faktor cuaca yang menyebabkan nelayan yang tidak dapat melaut, tetapi juga ada kemungkinan hasil tangkapan nelayan langsung masuk ke wilayah ekspor oleh distributor,” ujarnya.
Ketergantungan Papua Barat pada suplai barang dan berbagai komoditas dari daerah lain, masih menurut dia, juga dinilai sangat rentan memicu kenaikan angka inflasi di wilayah itu.
“Papua Barat masuk dalam wilayah penerima barang, jika inflasi terus meningkat di tingkat nasional maka akan langsung berdampak pada semua komoditas di daerah,” ujarnya. (Antara/e)














































