Jamilah, Guru Ngaji di Perbatasan RI-PNG Tanpa Digaji yang Suka Berbagi

Jamilah didampingi kedua murid ngajinya

Metro Merauke – Di tengah kemajuan globalisasi, profesi guru ngaji mungkin tidak begitu banyak diminati. Padahal, profesi ini sangat penting, untuk mendidik generasi penerus bangsa dengan ilmu-ilmu agama.

Kesadaran akan pentingnya peran profesi tersebut (guru ngaji), membuat seorang wanita paruh baya asal Cilacap, Jawa Tengah, yang tiba di Sota perbatasan RI-PNG pada 1995 silam mengikuti program transmigrasi, memilih abdikan dirinya sebagai guru ngaji.

Bacaan Lainnya

Ia bernama Jamilah (55), ibu dari dua anak ini terlahir dalam lingkungan keluarga berlatar belakang petani. Dia sendiri belajar mengaji dan ilmu agama dari kedua orang tuanya yang begitu getol menekankan pendidikan agama bagi anak-anak sejak usia dini.

Berbekal ilmu agama yang dimiliki, Jamilah sudah enam tahun terakhir mengajar mengaji puluhan anak yang berada di Sota.

Seperti biasa, selepas salat maghrib anak-anak yang berjumlah 30 an mulai datang ke rumahnya untuk mengaji. Setelah berkumpul, pengajian akan dimulai dan segera suara Al’Quran dibacakan.

“Kebanyakan yang datang mengaji ke rumah saya anak-anak usia sekolah,” ujarnya kepada Metro Merauke.

Diceritakan, aktivitas mengajar Al-Quran dilakukan Jamila setiap hari. Model pengajiannya tidak jauh berbeda dengan pengajian lainnya. Murid datang secara bergantian dan dibimbing mengaji bergiliran.

Jamilah menuturkan, mengajar mengaji menjadi kesenangan tersendiri. Dia yakin, kebaikan untuknya tidak akan berhenti mengalir selama putra-putri yang diajar mengaji terus mengamalkan ilmu yang diajarkan dengan terus membaca Al-Quran.

“Memang sangat dibutuh ketelatenan dan kesabaran saat mengajar ngaji,” katanya.

Wakil Ketua I DPRD Merauke, Hj Al-Marotus Solikah mengapresiasi dedikasi dan kerja keras guru ngaji telah berbagi ilmu agama untuk generasi muda

Meskipun tak pernah mematok biaya ngaji alias tanpa digaji dari profesi guru ngaji, Jamilah mengaku tidak pernah lelah dan tetap bersemangat untuk mendidik ilmu agama di daerah perbatasan.

“Semuanya saya lakukan dengan hati,” tuturnya.

Penduduk di daerah perbatasan RI-PNG melihat Jamilah sebagai sosok yang sangat baik. Sebab, dia rela mengorbankan waktunya untuk mengajar dan membantu orang lain.

Tak jarang Jamilah sering berbagi barang apa saja yang dimiliki dengan warga sekitar maupun berbagi ilmu agama untuk anak-anak di Sota.

Bersyukur dapat Insentif dari Wakil Bupati Merauke

Di momen Ramadan 1444 Hijriah, Pemerintah Kabupaten Merauke kembali menggelar Safari Ramadan yang dipimpin langsung Wakil Bupati Merauke, H. Riduwan.

Menariknya, pada kegiatan tersebut Wakil Bupati, H. Riduwan bersama istri yang juga Wakil I DPRD Merauke, Hj Al-Marotus Solikah memberikan insentif bagi imam masjid mau para guru ngaji di setiap distrik yang disinggahi tim Safari Ramadan, termasuk di Distrik Sota, Merauke.

Satu diantara penerima insentif sebagai guru ngaji adalah Jamilah. Dirinya mengucapkan rasa syukurnya saat menerima langsung insentif tersebut, Minggu (2/04/2023).

“Baru pertama kali saya merasakan ada pemberian insentif ini. Saya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah, khususnya Wabup H. Riduwan yang telah memperhatikan guru-guru ngaji di Merauke. Saya ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya,”tuturnya.

Sementara itu Wakil. Bupati Merauke, H. Riduwan menyebut, santunan diberikan sebagai bentuk apresiasi bagi imam dan para guru mengaji atas peran pengabdian kepada umat.

Ia pun mengucapkan terimakasih kepada seluruh guru ngaji yang telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk karakter bangsa anak Merauke.

“Saya atas nama pribadi dan Pemda Merauke mengucapkan terimakasih kepada seluruh Imam Masjid maupun guru ngaji yang telah memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membangun umat demi menciptakan masyarakat yang lebih baik di Kabupaten Merauke,”pungkasnya. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *