Mahasiswa Unipa Tawarkan Model Pemberdayaan Masyarakat Adat

Lasarus Indou, mahasiswa program studi doktoral UNIPA Manokwari. (ANTARA/HANS ARNOLD KAPISA)

Metro Merauke – Lasarus Indou salah satu mahasiswa program studi doktoral (S3) Ilmu Lingkungan pada Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat menawarkan
model Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PKAT) dengan berbagai pendekatan untuk mendukung program pembangunan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Lasarus Indou saat mempertahankan disertasinya kepada Tim Penguji UNIPA di Manokwari, Kamis.

Bacaan Lainnya

Lasarus mengemukakan bahwa pemerintah sejauh ini belum melakukan upaya maksimal dengan memberi perhatian pada sejumlah faktor dalam kegiatan pemberdayaan komunitas adat terpencil.

Faktor-faktor yang harus mendapat porsi perhatian dari pemerintah untuk melakukan hal itu yakni faktor lingkungan, sosial-budaya, ekonomi dan kelembagaan.

“Pemberdayaan komunitas adat terpencil sesungguhnya adalah upaya membuka aksesibilitas masyarakat terdalam, terluar dan terpencil (3T) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tradisional,” jelas Lasarus.

Terdapat tiga daerah menjadi lokasi sasaran penelitian Lasarus Indou dalam hal kegiatan pemberdayaan komunitas adat terpencil di Papua Barat yaitu Kabupaten Manokwari Selatan, Teluk Wondama dan Pegunungan Arfak.

Masyarakat yang bermukim di tiga daerah itu,katanya, hingga kini masih terikat erat dengan kehidupan tradisional.

Karena itu Lasarus merekomendasikan beberapa perlakuan tambahan yang harus diperhatikan dalam dalam pelaksanaan model pemberdayaan komunitas adat terpencil yaitu faktor lingkungan yang mencakup etnobotani, etnozoologi, dan etnoekologi, sosial budaya, ekonomi dan kelembagaan.

Program pemberdayaan komunitas adat terpencil di Papua Barat telah berlangsung sejak 2018, namun hingga kini masih tersisa 8.260 jiwa yang belum diberdayakan.

Rektor UNIPA Manokwari Meky Sagrim mengapresiasi hasil penelitian Lasarus Indou dan berharap hasil penelitian tersebut didedikasikan kepada pemerintah daerah di Papua Barat dalam menerapkan model pemberdayaan komunitas adat terpencil di wilayah itu.

“Kami mendorong agar Pemda Manokwari Selatan, Teluk Wondama dan Pegunungan Arfak dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam menyusun rencana strategis (Renstra) atau RPJMD sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan dapat tercapai,” ujar Sagrim. (Antara)

Untuk Pembaca Metro Merauke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *