Metro Merauke – Diantara puluhan anggota Paskibra Provinsi Papua Selatan, terlihat gadis dengan senyum manisnya yang menjadi pusat perhatian dalam barisan pasukan pengibar bendera merah putih pada HUT RI ke-78 di daerah itu.
Adalah Afrita A. Mbanggu, siswi kelas XI Jurusan Peternakan SMK 11 Distrik Naukenjerai, Merauke, didaulat untuk memegang baki pada upacara kemerdekaan 17 Agustus.
Proses pengibaran bendera merah putih di Stadion Katal Pal Merauke, Kamis (17/08/2023) itu menjadi salah satu momen yang tak disangka sekaligus membanggakan untuknya.
Kepada Metro Merauke, gadis kelahiran Tomer, 17 April 2007 silam mengungkapkan suka cita dan rasa bangganya dapat menjadi bagian paskibraka pada upacara kemerdekaan RI perdana tingkat Provinsi Papua Selatan tahun 2023.
Sedari duduk di bangku SD YPK Tomer dan dilanjutkan SMP YPK Tomer, Afrita sendiri sebenarnya telah lama mendambakan dapat masuk Paskibraka. Sebab, ia menyakini, tergabung sebagai anggota Paskibraka menjadi titian dia dalam menggapai cita-cita emasnya di dunia kepolisian.
“Ini menjadi jalan Tuhan, saya bisa terpilih dan masuk anggota Paskibraka PPS. Sejak kecil saya bercita-cita ingin menjadi Polwan, semoga kedepan benar-benar dapat terwujud sehingga bisa membahagiakan orang tua,” ucapnya, Selasa (15/08/2023).
Anak sulung dari pasangan Rudi Mbanggu dan Afra Wanggaimu bercerita, menjadi hal di luar ekspektasi dirinya, meski dia sangat ingin mengenakan baju putih Paskibraka, bahkan ia mendapat peran penting dalam pengibaran bendera dan disaksikan jutaan mata.

“Awalnya ada 4 siswa asal Distrik Naukenjerai yang mengikuti seleksi Paskibraka PPS, dan saya dinyatakan lolos, saya senang dan orang tua sangat terharu. Saya mau ucapkan terimakasih untuk pak guru yang sudah antar saya dari kampung untuk ikut seleksi,” tuturnya.
Tak banyak yang tahu, haru biru Afrita Mbaggu selama ini dalam menempuh perjalanan dari kampung Tomer tempatnya tinggal hingga sampai di SMK 11 Naukenjerai untuk menuntut ilmu pendidikan.
Selain harus melewati dua kampung dan diperparah dengan kondisi jalan yang dilalui rusak parah, memaksa Afrita harus berangkat dari rumah pukul 04.00 WIT.
“Saya ke sekolah setiap harinya diantar bapak. Kita harus jalan saat masih subuh, kalau tidak saya bisa terlambat masuk kelas. Karena memang jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh,” katanya.
Kendati dihadapkan dengan kondisi demikian, Afrita tak patah arang, dia tetap gigih dan semangat untuk menuntut ilmu. “Saya sangat ingin membahagiakan orang tua, sehingga saya harus tetap sekolah,” tuturnya.
Diakui Afrita, banyak pelajaran yang dia dapatkan melalui Paskibraka. Dia lebih menghargai waktu dan disiplin.
Menurutnya, yang paling penting dia belajar kebersamaan dan menjunjung tinggi solidaritas.
Dikatakan gadis penyuka olahraga voli ini, menjadi anggota Paskibraka Provinsi Papua Selatan merupakan sebagian kecil bukti kecintaannya terhadap Indonesia. Selepas tugasnya, Afrita pun berharap menjadi pribadi yang lebih baik lagi. (Nuryani)
















































