Harapan Baru dari Timur Indonesia, Kebun Sawit Rakyat KSU Iska Bekai Masuk Tahap Persiapan Tanam

Bedengan LCC untuk kegiatan penanaman sawit di Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke

Metro Merauke – Di tengah berbagai tantangan pembangunan desa dan pengelolaan sumber daya alam yang adil, satu kabar baik datang dari Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Koperasi Serba Usaha (KSU) Iska Bekai yang merupakan lembaga milik masyarakat adat setempat, kini sedang mempersiapkan penanaman perdana kebun sawit rakyat seluas 500 hektar.

Dari rilis yang diterima media ini, Rabu (14/05/2025), Ketua Koperasi KSU Iska Bekai, Abraham E. Yolmen mengungkapkan, kebun ini bukan milik perusahaan besar, tapi milik masyarakat sendiri.
Langkah ini, menurut Yolmen bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.

Bacaan Lainnya

Sejak awal tahun 2023, KSU Iska Bekai telah melalui proses panjang, dimulai dari stakeholder meeting yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Merauke, keterlibatan dinas, tokoh adat dan institusi teknis terkait.

Model yang dibangun, katanya, menempatkan koperasi sebagai entitas pengelola dengan masyarakat sebagai pemilik kebun bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek aktif pembangunan.

Bahkan, menurut dia, koperasi telah memulai pembangunan infrastruktur penting serta area nurseri (pembibitan) untuk mendukung masa tanam pertama yang direncanakan pada pertengahan tahun 2025.

Di lapangan, kata Abraham, semangat gotong royong terasa kuat. Jalan-jalan akses mulai dibuka, alat berat bekerja dan masyarakat mulai melihat perubahan nyata di kampung.

“Model seperti ini mengingatkan kita pada semangat Koperasi Desa Merah Putih atau inisiatif akar rumput lain yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pembangunan,” katanya.

Iska Bekai, dengan segala kerapuhan dan kekuatannya, menunjukkan bahwa koperasi desa bukan sekadar struktur legal, tapi juga kendaraan perubahan sosial dan ekonomi di tingkat lokal.

Bagi NGO, akademisi dan para pemerhati pembangunan berkelanjutan, kisah dari Merauke ini mungkin bisa menjadi contoh menarik tentang bagaimana pendekatan berbasis komunitas, regulasi yang berpihak, dan kemitraan yang adil bisa benar-benar berjalan.

“Tentu tantangannya masih banyak, tapi satu hal pasti-benih harapan sedang ditanam dan masyarakat setempat tengah belajar menjadi tuan rumah di tanah sendiri,” pungkasnya. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *