Metro Merauke — Tim Ekspedisi Patriot Muting (TEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tim 16, yang diketuai oleh Rindu S. M. Firdaus, melaksanakan uji coba pemasaran kolektif produk masyarakat Kawasan Transmigrasi Muting dalam Festival Kalimaro yang berlangsung pada 1–5 Oktober 2026 di Distrik Semangga, Papua Selatan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat bernama KASUARI (Konektivitas Usaha Ekonomi, Adat, Jender, dan Inklusivitas). Program ini dirancang untuk membangun jembatan yang inklusif dalam menghubungkan, memperkuat, dan mengembangkan kerja sama antarkelompok usaha masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting, khususnya antara masyarakat adat dan masyarakat eks-transmigran.
Melalui uji coba ini, Tim 16 membawa 10 produk hasil usaha dari sejumlah kelompok masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Distrik Ulilin, dan Distrik Muting) untuk diperkenalkan, dipromosikan, dan dipasarkan kepada pengunjung Festival Kalimaro. Festival tersebut merupakan agenda tahunan berskala provinsi yang pada tahun ini diselenggarakan di Distrik Semangga.
Selain memperluas pengenalan terhadap produk lokal, Tim 16 juga mempromosikan 3 titik pariwisata di Kawasan Transmigrasi Muting. Ketiga potensi wisata tersebut dikelola oleh kelompok masyarakat setempat dan dipandang memiliki peluang pengembangan yang lebih besar pada masa mendatang, terutama apabila didukung oleh promosi yang berkelanjutan, penguatan tata kelola kelompok, serta jejaring pasar dan kemitraan yang lebih luas.
“Uji coba pemasaran kolektif ini merupakan langkah awal untuk menunjukkan bahwa kelompok-kelompok usaha masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting dapat saling menguatkan melalui kerja sama,” ujar Rindu S. M. Firdaus, Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot Muting UGM.
“Melalui pendekatan kolektif, kami ingin membuktikan bahwa akses terhadap pasar yang lebih luas dapat dibangun secara lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.”
Pemasaran kolektif menjadi salah satu bentuk pendampingan Tim 16 untuk menjangkau pasar di luar Kawasan Transmigrasi Muting. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu kelompok usaha masyarakat menghadapi sejumlah hambatan yang selama ini membatasi perluasan pasar, seperti tingginya biaya pemasaran, biaya pengiriman atau distribusi barang, serta kebutuhan tenaga kerja khusus untuk kegiatan promosi dan penjualan.
Tim yang beranggotakan Danartya Dwijatmoko, Muhammad Alif Al Hakim, Muhammad Aziz Hutama, Nadya Annisa Arianti, dan Nur Rani menghimpun produk dari beberapa kelompok usaha dalam satu kegiatan pemasaran, biaya dan kebutuhan operasional tersebut dapat dikelola secara bersama-sama. Model ini juga membuka ruang bagi kelompok usaha masyarakat untuk saling mengenal produk, membangun kepercayaan, memperluas jejaring, serta mengembangkan strategi ekonomi yang tidak berjalan secara sendiri-sendiri.
Sepuluh produk yang diuji coba dalam pemasaran kolektif merupakan hasil kolaborasi Tim 16 dengan beberapa tim yang juga tergabung dalam Ekspedisi Patriot Muting UGM. Empat tim lain yang terlibat yakni Tim 9 dengan membawa prototipe produk kopi, Tim 12 di bidang hilirisasi ubi kayu, Tim 13 di bidang pariwisata, dan Tim 17 di bidang tanaman endemik lokal. Kolaborasi tersebut terbangun melalui berbagai kegiatan pendampingan yang berfokus pada pengembangan produk masyarakat, mulai dari peningkatan nilai tambah hingga kesiapan produk untuk dikenalkan kepada pasar yang lebih luas.

Program KASUARI menempatkan hubungan antara aspek ekologis, ekonomi, dan kelembagaan masyarakat sebagai satu kesatuan. Penguatan ekonomi lokal tidak hanya diarahkan pada peningkatan penjualan produk, tetapi juga pada terbentuknya relasi kerja sama yang adil, inklusif, dan mampu mempertemukan kepentingan masyarakat adat maupun masyarakat eks-transmigran di Kawasan Transmigrasi Muting.
Keikutsertaan dalam Festival Kalimaro merupakan salah satu rangkaian pendampingan Tim 16 dalam penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat. Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan pola pemasaran kolektif yang lebih terstruktur, memperluas jejaring pasar produk lokal, serta meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam mengelola potensi ekonomi dan pariwisata kawasan secara mandiri.
Hasil pendampingan di Festival Kali Maro akan menjadi bahan diskusi pada piloting dan pendampingan yang akan dilakukan pada Oktober-November 2026. Tim 16 juga membangun platform berbasis website untuk menampilkan berbagai potensi. Sila mengunjungi www.xpedia.id untuk mengetahui potensi lokal di Kawasan Transmigrasi Muting.
Tentang Program KASUARI
KASUARI (Konektivitas Usaha Ekonomi, Adat, Jender, dan Inklusivitas) adalah program penguatan kelembagaan ekonomi yang dijalankan oleh Tim 16 Ekspedisi Patriot Muting UGM. Program ini berupaya membangun jembatan kolaborasi antarkelompok usaha masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting dengan perhatian khusus pada penguatan relasi antara masyarakat adat dan masyarakat eks-transmigran. Melalui pendampingan, kolaborasi lintas tim, serta uji coba pemasaran kolektif, KASUARI mendorong pengembangan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. ***














































