Legislator Papua Sayangkan Gagalnya Dua Remaja Mimika Wakili Indonesia ke Thailand

Andrianus Beanal dan Anastasia Yosinta Eanem (tengah) - IST

Metro Merauke – Legislator Papua, Laurenzus Kadepa menyayangkan gagalnya dua remaja asal Kabupaten Mimika, mewakili Indonesia pada ajang International ASEAN di Bangkok, Thailand, Agustus 2022.

Keduanya remaja itu, yakni Andrianus Beanal dan Anastasia Yosinta Eanem. Adrianus Beanal keluar sebagai terpilih sebagai salah satu dari tiga peserta terbaik pada Lomba Indonesian Model Award 2022 yang diselenggarakan 24-27 Maret, di Hotel Orchad Industry, Jakarta.

Bacaan Lainnya

Sementara untuk kategori remaja/dewasa, Anastasia Yosinta Eanem terpilih sebagai juara favorit. Akan tetapi, keduanya batal berangkat ke negeri gajah putih, sebab terkendala biaya.

“Potensial kedua anak ini sangat bagus. Sayang sekali potensi mereka terkendala biaya, sangat sedih sekali melihat kenyataan ini,” kata Laurenzus Kadepa, Kamis malam (09/06/2022).

Politikus Partai Nasional Demokrat (NasDem) dari daerah pemilihan Mimika, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, dan Nabire itu mengkritik keberadaan PT Freeport Indonesia, yang telah puluhan tahun beroperasi di Bumi Amungsa, Mimika.

Menurutnya, dalam situasi inilah tambang emas dan tembaga yang selama ini mengeruk kekayaan perut bumi di Mimika, mestinya menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat adat di sana.

“Freeport sudah puluhan tahun keruk emas hal hal seperti ini kenapa tidak diperhatikan. Kecewa sekali anak anak, yang potensial, yang ingin tampil di ajang internasional, terpaksa putus di tengah jalan karena terkendala biaya,” ujarnya.

Selain PT Freeport Indonesia, Laurenzus Kadepa juga menyentil Pemerintah Kabupaten Mimika. Pemkab Mimika dinilai mestinya bisa memfasilitasi kedua remaja itu mewujudkan mimpinya. 

“PT Freeport dan Pemda Mimika mau buat apa saja. Kedua remaja ini adalah anak anak Papua, asli Mimika yang ditelantarkan. Hal hal seperti ini mengapa tidak dipedulikan,” ucapnya.

Kekecewaan juga diungkapkan Sekretaris 

Forum Pemilik Hak Sulung (FPHS) Tiga Kampung yaitu Tsinga, Waa/Banti dan Aroanop (Tsingwarop), Johan Songgonau.

Katanya, pihaknya sempat bangga sebab PT Freeport Indonesia dan YPMAK, mensponsori kedua remaja itu ikut kontes di Jakarta. 

Keduanya pun mendapat tiket berangkat ke Bangkok, Thailand. Namun kini kedua remaja itu gagal berangkat ke Bangkok, mewakili Indonesia, karena terkendala biaya.

“Kami sangat kecewa. Hanya biaya Rp 150-Rp 200 ratus juta, Freeport tidak bisa bantu, sehingga kedua anak kami tidak bisa berangkat,” kata Jhon Songgonau. (Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *