Metro Merauke – Panitia Khusus atau Pansus Aset yang dibentuk DPR Papua pada pekan lalu diminta tegas dalam bekerja menata aset milik Pemprov Papua dan DPR Papua.
Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Papua, Thomas Sondegau mengatakan mengapresiasi dan mendukung pembentukan Pansus Aset itu. Namun pansus ini mesti benar-benar bekerja maksimal menata semua aset yang ada.
“Sudah bagus, Pansus Aset sudah mulai bekerja tapi harus benar-benar tegas. Pansus Aset DPRP mesti tegas terhadap asetnya yang dikuasai pihak tidak berhak,” kata Thomas Sondegau, Selasa (06/06/2023).
Menurutnya, salah satu aset DPR Papua yang kini dikuasai pihak lain, adalah rumah DPR Papua di Kotaraja, Kota Jayapura.
Katanya, ada orang yang bukan anggota dewan atau mantan anggota dewan, masih menempati rumah-rumah di perumahan dewan itu selama bertahun-tahun.
“Karenanya dengan adanya Pansus Aset DPR Papua ini, jangan hanya melihat untuk kumpul-kumpul atau mendata aset di luar saja, tapi harus melihat kembali aset milik DPRP sendiri termasuk perumahan dewan,” ucapnya.
Thomas mengatakan, rumah di perumahan dewan yang bukan ditempati anggota DPR Papua, mesti dikosongkan dan ditarik kembali. Sikap tegas harus diambil, karena selama ini dari tahun ke tahun setiap kali DPR Papua membentuk Pansus, tidak ada solusi terhadap aset-aset ini
“Karenanya kalau bicara masalah aset, perumahan DPR Papua itu, termasuk di dalamnya. Mobil dinas sudah dikumpulkan, sekarang tinggal bagaimana aset tidak bergerak milik DPR Papua, seperti perumahan dewan dan Mess DPR Papua di Jalan Percetakan, Kota Jayapura ditata dan dikelola secara baik,” ujarnya.
Ia menyarankan, agar Mess DPR Papua yang dibangun sejaka hampir 20 tahun, dan diresmikan satu tahun lalu karena pengerjaannya baru selesai, bisa dikelola untuk mendatangkan Pendapat Asli Daerah (PAD).
“Mess itukan tidak difungsikan hingga kini. Kalau bisa Mess itu diserahkan ke pihak ketiga untuk dikelola agar bisa mendatangkan PAD. Ada kontribusi terhadap daerah. Di sana kan ada 24 kamar. Karena setelah pemekaran, PAD Provinsi Papua ini sudah berkurang,” kata Thomas Sondegau. (Redaksi/Arjuna)
















































