Tekan Penyebaran HIV/AIDS Dikalangan Remaja, Guru SD hingga SMA di Merauke Dibekali Pelatihan Deteksi Dini

Metro Merauke – Dinas Kesehatan menggandeng para tenaga pendidik tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Merauke melalui pelatihan (on the job training) pencegahan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Langkah strategis ini diambil menyikapi tingginya temuan kasus di kalangan remaja sekaligus menghapus stigma dan diskriminasi terhadap para penderita.

​Melalui pelatihan tersebut, para guru dibekali pemahaman mengenai penanganan awal, skema pengobatan, hingga cara penularan virus yang sebenarnya.

Bacaan Lainnya

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Selatan, dr. Benedicta Herlina Rahangiar, edukasi ini dinilai penting untuk meluruskan kekeliruan persepsi di masyarakat, seperti anggapan keliru bahwa HIV dapat menular melalui jabat tangan atau makan bersama.

​Selain mengenali gejala sejak dini, para guru diharapkan dapat menyelipkan materi pola hidup sehat di sela-sela kegiatan belajar-mengajar. Optimalisasi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) juga terus diperkuat dengan pembinaan rutin dari Dinas Kesehatan.

​Herlina mengungkapkan, penyebaran HIV/AIDS di Provinsi Papua Selatan secara keseluruhan masih tergolong tinggi, dengan konsentrasi kasus terbesar berada di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel.

“Tren penularan kini tidak hanya menyasar usia produktif, tetapi juga mulai ditemukan pada anak usia sekolah dasar hingga menengah,” ujarnya kepada wartawan disela-sela kegiatan, Senin (21/09/2026).

​Data menunjukkan bahwa penderita didominasi oleh kelompok perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Kondisi ini dipengaruhi dua faktor utama:

​Program Penjaringan Masif: Pemerintah mewajibkan pemeriksaan (screening) bagi seluruh ibu hamil dan menyusui, sehingga angka temuan kasus pada perempuan terdata jauh lebih efektif.
​Faktor Anatomi Organ Reproduksi: Secara biologis, struktur organ reproduksi wanita membuat cairan tubuh bertahan lebih lama seusai berhubungan seksual, sehingga risiko tertular dari pasangan yang terinfeksi menjadi lebih tinggi.
​Sementara penanganan pada populasi kunci—seperti di area hiburan malam dan lokalisasi—sudah rutin terpantau melalui program netting, penyebaran di luar populasi kunci justru menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.

​Untuk itu, guna memutus rantai penularan secara menyeluruh, pemerintah menyarankan agar pemeriksaan HIV/AIDS dijadikan sebagai salah satu syarat wajib pra-nikah bagi calon pengantin pria.

Langkah ini diyakini dapat memberikan gambaran peta sebaran kasus yang lebih seimbang sekaligus melindungi pasangan.

​Masyarakat juga diimbau untuk aktif memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis di fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan dan deteksi sejak dini menjadi kunci utama penanganan medis yang tepat serta pencegahan penularan yang lebih luas. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *