Metro Merauke – Persipura turun kasta ke Liga 2 musim depan. Kecewa, sedih, marah menjadi satu dalam dalam diri publik Papua dan mereka yang mencintai Persipura.
Klub sepak bola yang dikagumi banyak kalangan itu, kini terpuruk. Sejarah dan keperkasaan Persipura selama hampir dua dekade terakhir, seakan tak berbekas.
Disaat semua pecinta Persipura tertunduk lesu, manajemen memutuskan menunjuk manajer baru. Seorang politikus muda asal Papua, Yan Permenas Mandenas.
Namanya, sudah tak asing lagi bagi publik Papua, dan sebagian kalangan di luar Papua.
Diusianya yang masih terbilang muda, sepak terjang Yan Mandenas dalam dunia politik cukup diperhitungkan.
Namun alasan penunjukan Yan Mandenas, bukan karena memiliki karir politik cemerlang. Akan tetapi kepedulian dan kecintaannya terhadap dunia olahraga, terutama sepak bola dan Persipura.
Mandenas bukanlah orang baru bagi manajemen dan pemain Persipura. Beberapa tahun lalu, anggota Komisi I DPR RI itu pernah berada dalam jajaran kepengurusan Persipura.
Saat menjabat anggota DPR Papua periode 2009-2014 dan 2014-2019, Yan Mandenas juga memiliki hubungan baik dengan para pemain dan manajemen Persipura.
“Penunjukan Yan Mandenas sebagai manajer, melalui sejumlah pertimbangan yang dilakukan secara saksama,” kata Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano dalam siaran pers klub, Selasa (05/04/2021).
Mandenas dianggap tepat menakhodai Persipura. Ia berwawasan luas, dan dapat membangun komunikasi baik dengan siapapun.
“Melalui rapat manajemen kami telah memutuskan, manajer tim Persipura Jayapura yang baru, yaitu saudara Yan Mandenas. Anak muda Papua yang punya spirit, pengetahuan baik, dan kemampuan komunikasi,” ucapnya Wali Kota Jayapura itu.
Selain itu, Yan Mandenas berkomitmen mengangkat kembali klub berjuluk Mutiara Hitam.
Komitmen Kembalikan Kejayaan Persipura
Yan Permenas Mandenas berkomitmen mengembalikan kejayaan Mutiara Hitam. Ia siap mengemban tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Mengangkat Persipura dari keterpurukan.
“Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan publik sepak bola Papua kepada saya, sebagai manajer Persipura. Tantangan mengembalikan Persipura ke Liga 1 sangat besar. Namun saya menerima tanggung jawab ini,” kata Yan Mandenas.
Namun, Yan Mandenas tidak mungkin dapat menanggung beban tanggung jawab itu sendiri. Diperlukan dukungan semua pihak, mengembalikan kejayaan Persipura
“Saya berharap semua pihak saling membantu. Memberikan masukan positif, agar Persipura bisa menjadi juara Liga 2 dan promosi ke Liga 1,” ucapnya.

Politikus Partai Gerindra itu mengatakan, dalam waktu dekat ia akan bertemu pengurus Persipura. Salah satu tujuannya, membentuk stuktur manajemen klub.
Langkah cepat mesti segera diambil, sebab klub yang pernah merajai sepak bola Indonesia itu mesti segera melakukan persiapan menghadapi Liga 2 musim 2022/2023.
“Kami akan berkomunikasi dengan PT Freeport Indonesia dan Bank Papua, agar mendukung penuh Persipura di Liga 2. Saya juga mencari sponsor tambahan, agar persiapan tim bisa dilakukan cepat untuk bersaing di Liga 2 musim depan,” ujarnya.
Spirit Baru Mengembalikan Kejayaan
Persipura, Mutiara Hitam dari timur degradasi ke kasta kedua sepak bola Indonesia musim depan, setelah hanya mampu mengakhiri kompetisi Liga 1 2021/2022 di urutan ke-16, atau satu strip di bawah posisi aman.
Penampilan Persipura yang tidak konsisten sepanjang musim ini, disebut berbagai pegamat sebagai salah satu penyebab.
Namun kehadiran Yan Mandenas sebagai manajer diharapkan menjadi spirit baru Persipura untuk bangkit.
Berbagai kalangan optimis, Yan Mandenas dapat menyalakan kembali semangat api perjuang pemain Persipura di lapangan hijau, yang meredup sepanjang musim Liga 1 2021/2022.
Sebagai anak muda yang memiliki semangat olahraga, Yan Mandenas diharap dapat melambungkan kembali kejayaan Mutiara Hitam dari timur.

Disayangkan memang, Persipura klub yang penuh sejarah dan dicintai banyak kalangan, mesti terbuang dari kasta tertinggi sepak bola Tanah Air.
Akan tetapi, tak ada guna terus merenungi apa yang telah terjadi. Bukan saatnya meratapi nasib. Persipura mesti segera bangkit.
Menata kekuatan, mengumpulkan spirit juara. Mengembalikan kejayaan bersama nakhoda baru, Yan Mandenas.
Mengulang masa masa indah Mutiara Hitam seperti saat menjuarai Liga Indonesia pada 2005, Liga Super Indonesia musim 2008/209, 2010/2011 dan 2012/2013, atau ketika pasukan merah-hitam menembus semifinal Piala AFC pada 2014.
Sebab, publik Papua dan semua pecinta Persipura merindukan lantunan lirik lagu grup musik legendaris asal Papua Black Brothers “Bermain gemilang menerjang lawan dan selalu menang. Persipura Mutiara Hitam, Persipura selalu gemilang.”
Lagu yang sering diperdengarkan sebelum atau sesudah Persipura melakoni pertandingan di Stadion Mandala Jayapura. (Redaksi/Arjuna)
















































