Metro Merauke -Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia di SMA Negeri 3 Merauke tahun ini berlangsung jauh lebih meriah dan penuh kesan.
Rangkaian kegiatan menyemarakkan hari kemerdekaan RI yang digelar selama sepekan, tidak hanya menonjolkan kebolehan siswa dalam berkreasi, tetapi juga mempererat hubungan antara sekolah, alumni, dan para orang tua murid.
Kepala SMA Negeri 3 Merauke, Benedikta Sri Lestari Kelanit, kepada Metro Merauke menjelaskan, suasana perayaan HUT RI tahun ini terasa lebih mantap berkat persiapan matang di berbagai lini, mulai dari penampilan tim drumband hingga pasukan Paskibra sekolah telah sukses bertugas mengibarkan bendera Merah Putih dengan sangat baik.
“Penyelenggaraan kali ini mengusung semangat kebersamaan dengan melibatkan para alumni serta berfokus pada potensi putra – putri Papua,” ujar Kelanit, Senin (17/08/2026).
Dikatakan, selain menggelar beragam perlombaan yang melibatkan guru dan siswa, SMAN 3 Merauke juga turut ambil bagian dalam aksi pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 81 meter bersama SMK Negeri 2, SMK 3, SMK 12, dan Sekolah Rakyat di Jalan Kamizaun.

Menariknya lagi, kata Benedikta Sri Lestari Kelanit, satu hal unik yang terus dipertahankan SMAN 3 Merauke selama dua tahun terakhir, adalah pelibatan orang tua murid dalam pelaksanaan upacara bendera. “Kami (pihak sekolah) mengundang orang tua untuk menyaksikan langsung penampilan anak-anak mereka,” ujarnya.
Langkah ini diambil agar orang tua dapat mengapresiasi perjuangan siswa yang telah berlatih keras selama ini. Pihak sekolah berharap, kolaborasi antara lingkungan keluarga dan sekolah seperti ini dapat memupuk rasa bangga sekaligus membentuk generasi muda yang lebih baik.
Di balik kemeriahan fisik, pada puncak peringatan HUT RI lewat upacara bersama yang dipimpin Wakasek Penjamin Mutu, Andi Kusnandi, di momen HUT Ke-81 RI menitikberatkan pentingnya penanaman jiwa kebangsaan dan pembinaan akhlak di era digital.

Menurut Benedikta Sri Lestari Kelanit, di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan bermedia sosial, generasi muda diminta untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif.
Sekolah mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat dan sikap kritis harus disampaikan secara santun serta bermartabat. Sebab, katanya, bahasa dan etika bertutur merupakan cerminan dari budaya dan keadaban suatu bangsa.
“Pembentukan karakter ini tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi memerlukan pengawasan dan bimbingan berkelanjutan di lingkungan keluarga serta masyarakat,” tandasnya. (Nuryani)














































