Merauke Terasa Lebih Dingin, Ternyata ini Penyebabnya!

Metro Merauke – Belakangan ini, masyarakat di wilayah Merauke dan sekitarnya merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga dini hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan resmi mengenai dinamika cuaca dan fenomena atmosfer yang tengah berlangsung di wilayah Papua Selatan tersebut.

Bacaan Lainnya

​Prakirawan, Yunita, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Merauke saat ini sudah memasuki musim kemarau, dengan dominasi cuaca cerah berawan. Dan, udara dingin yang dirasakan masyarakat belakangan ini terjadi akibat minimnya tutupan awan pada malam hingga dini hari.

“Pada malam hari, radiasi panas dari permukaan bumi seharusnya tertahan oleh tutupan awan di atmosfer. Namun, karena kondisi langit cenderung cerah dan tanpa awan, radiasi panas tersebut langsung lepas ke atmosfer luar. Akibatnya, pelepasan panas terjadi secara signifikan dan berdampak pada penurunan suhu udara yang cukup drastis di permukaan,” jelas Yunita, Selasa (21/07/2026).

​Selain faktor tutupan awan, sambungnya, wilayah Papua bagian selatan saat ini juga didominasi angin Monsun Australia yang bergerak dari arah timur, membawa massa udara yang cenderung lebih kering dan dingin.

​BMKG juga menyoroti pemantauan fenomena iklim global, di mana kondisi El Nino saat ini terpantau berada dalam kategori moderat. Fenomena ini secara umum berdampak pada menurunnya potensi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

​Di saat yang sama, terdapat dinamika atmosfer lain yang memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah selatan Indonesia, khususnya Papua Selatan:

​Pusat Tekanan Udara Rendah: Terpantau adanya area tekanan udara rendah di Samudera Pasifik sebelah timur Filipina.
​Tarikan Massa Udara: Sistem tekanan rendah tersebut menarik massa udara dari Belahan Bumi Selatan menuju ke utara.
​Peningkatan Kecepatan Angin: Proses pembentukan alur massa udara ini meningkatkan kecepatan angin di Merauke, yang saat ini terpantau berkisar antara 7 hingga 25 knots.
​”Kecepatan angin maksimum terpantau terjadi di sekitar Laut Arafuru. Hal ini berdampak langsung pada kondisi perairan dan ketinggian gelombang di beberapa titik perairan Papua Selatan,” terangnya.

Para pengguna jasa transportasi laut dan nelayan tradisional yang melintas di wilayah Yos Sudarso bagian selatan dan Laut Arafura diminta untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi dan angin kencang. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *