TEP IPB University Kembangkan Demplot Padi IPB 9G Berbasis Mekanisasi di Kampung Wapeko, Merauke

​Metro Merauke – Upaya modernisasi sektor pertanian di kawasan transmigrasi Papua Selatan terus digalakkan. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi bersama IPB University resmi merintis pembuatan dan penanaman lahan percontohan (demplot) padi varietas IPB 9G berbasis mekanisasi di Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, pada Selasa (08/09/2026).

​Program ini dirancang untuk memperkenalkan benih padi unggul sekaligus mendorong penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) sejak tahap awal budidaya. Demplot percontohan tersebut dibangun di atas lahan seluas 1 hektare dengan mengaplikasikan sebanyak 60 kilogram benih varietas IPB 9G.

Bacaan Lainnya

​Penanaman perdana dipimpin langsung oleh Ketua Tim TEP IPB University, Lilis Sucahyo, S.TP., M.Si., bersama anggota tim yang terdiri dari Thoriq Aziz Al Madani, S.T., Hafiz Damarjati, S.T., Novia Miftakhul Qisthi, S.Tr.Bns., Haura Alisya Sari, S.TrP., dan Hedera Muammad Thoriq, S.P. Pelaksanaan di lapangan turut didampingi oleh Sekretaris Kampung Wapeko, Arga Setiawan, serta sejumlah petani setempat yaitu Viki, Leo, Ari, dan Rasido.

​Penerapan mekanisasi saat penanaman menjadi sarana edukasi praktis bagi masyarakat Wapeko. Melalui peragaan langsung, para petani dapat mengamati efisiensi alsintan guna memicu proses transfer pengetahuan teknologi pertanian modern di kawasan transmigrasi tersebut.

​Sekretaris Kampung Wapeko sekaligus pemilik lahan demplot, Arga Setiawan, menyambut positif inisiatif ini dan berharap kolaborasi tersebut membawa dampak berkelanjutan bagi kemandirian pangan lokal.

​”Kami berharap demplot percontohan di Wapeko ini dapat memberikan hasil produksi beras yang optimal. Program ini juga kami harapkan menjadi sarana transfer pengetahuan mekanisasi, sehingga masyarakat yang belum terbiasa bisa mulai memahami operasional alsintan, dan yang telah memiliki dasar keterampilannya dapat terus memperdalam kemampuannya,” ujar Arga.

​Selama satu musim tanam ke depan, perkembangan vegetatif hingga produktivitas varietas IPB 9G di demplot ini akan terus dipantau dan dievaluasi. Hasilnya kelak menjadi tolok ukur kesesuaian benih IPB 9G terhadap kondisi karakteristik lahan di Merauke, sekaligus membandingkan efisiensinya terhadap varietas lokal yang selama ini digunakana oleh petani. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *