Karantina Merauke Gagalkan Upaya Penyelundupan Awetan Satwa Langka Endemik Papua

Petugas Karantina menujukkan satwa diawetkan yang akan diselundupkan

Metro Merauke – Karantina Pertanian Merauke melalui Kantor Pelayanan Karantina Wilayah Kerja Kantor Pos Merauke berhasil menggagalkan penyelundupan satwa dilindungi yang dimuat dalam sebuah paket barang kiriman, Rabu (02/08/2023).

Bermula dari laporan rencana pengiriman paket barang oleh pegawai Kantor Pos Merauke.

Bacaan Lainnya

Dikatakan Dokter Hewan Karantina Ahli Pertama, Candra Nunus Andayani, sesuai prosedur karantina, pejabat Karantina melakukan pemeriksaan dan pengawasan media pembawa yang akan dilalulintaskan untuk memastikan kelayakan fisik dan kesehatan media pembawa.

“Ketika dibuka di dalam paket tersebut terdapat satu awetan cendrawasih, satu butir telur kasuari, dan satu gigi buaya. Petugas kaget saat mengetahui isi paket merupakan barang-barang yang satwa liar dan atau satwa langka,” ujar Candra.

Dijelaskan, Undang-Undang No. 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan selain melaksanakan fungsi pencegahan penyakit yaitu mengamanahkan untuk melakukan pengawasan dan/ atau pengendalian terhadap keamanan pangan dan mutu pangan, keamanan pakan dan mutu pakan, produk rekayasa genetik, sumber daya genetik, agensia hayati, jenis asing invasif, tumbuhan dan satwa liar, serta tumbuhan dan satwa langka yang dilalulintaskan antar wilayah.

Dalam hal ini langkah yang dilakukan Pejabat Karantina yaitu melakukan tindakan penahanan dan mengamankan barang tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Karantina Pertanian Merauke, Cahyono, mengapresiasi tindakan yang dilakukan Pejabat Karantina yang bersinergi dengan petugas Kantor Pos Merauke dalam menggagalkan upaya penyelundupan satwa endemik Papua.

“Kita ketahui bahwa burung cendrawasih termasuk satwa liar, langka yang dilindungi dan kondisinya terancam punah. Dengan menjadikannya awetan, maka akan berdampak pada keseimbangan ekosistem di alam serta berpotensi mengakibatkan munculnya wabah penyakit yang tidak bisa kita prediksi,” terang Cahyono. (Nuryani)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *