Metro Merauke – Panitia Pelaksana Pertandingan atau Panpel Perswar Waropen bersama berbagai pihak menyalakan 129 lilin di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua pada Senin (03/10/2022) petang.
Aksi sebagai bentuk empati terhadap korban tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Sabtu (01/10/2022). Tragedi itu menewaskan sedikitnya 125 orang.
Aksi yang digelar Panpela Perswar ini melibatkan para suporter, Polda Papua, perwakilan KONI Papua, Asprov PSSI Papua, KONI Kota Jayapura dan perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Papua.
Mereka yang terlibat dalam aksi lilin di Stadion Mandala Jayapura itu, mengheningkan cipta sejenak sebagai bentuk penghormatan dan rasa duka cita terhadap para korban.
Wakil Ketua Panpel Persewar, Frits Ramandey mengatakan, peristiwa di Kanjuruhan merupakan tragedi kemanusiaan.
“Ini sebagai bentuk empati dan belasungkawa kami atas apa yang terjadi di Kanjuruhan Malang. Peristiwa itu merupakan tragedi kemanusiaan,” kata Frits Ramandey.
Frits berharap, peristiwa serupa tidak terjadi lagi dikemudian hari. Sebab, sepak bola mestinya bisa menjadi saran membawa pesan perdamaian.
“Jangan lagi ada aksi anarkistis dalam sepak bola kita. Rivalitas hanya selama 90 menit di lapangan. Setelahnya, kita semua bersaudara,” ujarnya.
Tragedi Kanjuruhan Urutan Ketiga di Dunia
Peristiwa di Stadion Kanjuruhan disebut-sebut merupakan tragedi yang menelan korban jiwa terbanyak ketiga dalam sejarah sepak bola dunia.
Dua peristiwa rusuh sepak bola lainnya, yang menelan banyak korban jiwa terjadi di Stadion Nasional (Estadio Nacional), Lima, Ibu Kota Peru saat laga Peru vs Argentina pada 1964. Sedikitnya 326 orang tewas dalam kerusuhan itu.
Diurutan kedua, terjadi di Stadion Olahraga Accra, Ghana, yang mempertandingkan laga antara Heart of Oak vs Kotoko pada 2001. Jumlah korban tewas mencapai 126.
Dalam tragedi Kanjuruhan, sedikitnya 125 orang dilaporkan tewas. Peristiwa itu imbas kekalahan 2-3 Arema FC dari Persebaya Surabaya saat derby Jawa Timur, dalam kompetisi Liga 1.
Setelah laga, suporter Arema FC yang kecewa dengan kekalahan timnya turun ke lapangan mengejar pemain dan ofisial. Polisi berupaya menghalau mereka, dengan menembakkan gas air mata.
Penonton yang panik berlari ke pintu keluar sehingga terjadi penumpukan. Akibatnya banyak di antara mereka yang terinjak-injak, terhimpit, dan sesak nafas.
Selain 125 korban meninggal dunia, tercatat ada 13 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri. (Arjuna)














































